Non Fiksi

Terima kasih untuk selalu berjuang

Terima kasih untuk selalu berjuang, adik-adik Mba tersayang.

Satu bulan terakhir menjadi bulan yang padat di akhir pekan. Sabtu-Ahad tak pernah bermalam di rumah Jogja. Alhamdulillah Allah masih kasih nikmat untuk merasakan padatnya hari (meski masih jauh dibandingkan teman-teman yang lain). Semoga Allah terus izinkan untuk selalu dalam kebaikan-Nya bersama orang-orang yang mencintai kalam-Nya.

Pagi ini, setelah 2 pekan tak jumpa (maafkan mbaaa), akhirnya kita bisa berjumpa meski hanya 1,5 jam. Kurang dari separuh waktu dari lama waktu biasa kita jumpa di hari dan waktu yang biasa. Mba sangat mengerti, beberapa kalian ada yang berasrama, ada yang tidak memiliki kendaraan, dan lan sebagainya. Dan… kita sama-sama ada kuliah di atas pukul 09.00. Akhirnya, tempat sarapan di dekat kampus menjadi pilihan kita kali ini.

Sampai di lokasi, sudah ada dua di antara kalian memegang pena, kertas, dan laptop di hadapan. Ternyata sedang mengerjakan tugas di sela menanti kumpul rutinan kita dimulai. MaasyaAllah.

“Mba, **** mau jalan kaki ke sini.”

“Jangan. Dijemput yaa. Mba minta tolong.”

Oke Mba, aku jemput.”

MaasyaAllah, jalan pun tak masalah. Padahal sarapan juga belum. :’)

Mba jadi mengingat-ingat pertemuan kita yang lalu-lalu, beberapa dari kalian memang ada yang tak memiliki kendaraan bermotor. Dan… naik sepeda onthel pun kalian lakukan ke lokasi melalui jalan menanjak sepanjang 6,5 km. Datang-datang bawa minuman coklat untuk masing-masing dari kita. Dan saat itu kau katakan,“Mba, maaf… Yang satu jatuh di jalan. Nanti punyaku buat Mba aja. Aku bisa gampang beli tiap hari. Deket kosan kok.” Sebuah kalimat darimu membuat Mba semakin ingin menangis saat itu juga. Tapi Mba harus tahan, tak boleh menangis di hadapan kalian. Belum lagiii kalian selalu mengusahakan datang tepat waktu dan meminta izin dengan adab terbaik. :”

Daaaan masih banyak lagi kebaikan-kebaikan yang kalian lakukan. Semakin Mba malu dan ingin terus memberi untuk kalian. Berlomba-lomba dalam kebaikan. Terasa betul dalam lingkaran cinta kita ya, Dek? :’)

Baarakallaahu fiikunna, shalihaat…

Mba hanya mau berpesan untuk kalian, juga untuk Mba sebagaimana Allah titipkan pesan cinta-Nya:

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” – [Al-Qashash :77]

Cukuplah hal baik yang tak terhitung yang Allah berikan kepada kita menjadi motivasi terbesar kita. Bukankah salah satu bentuk syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang Allah berikan adalah dengan berbuat baik dengan sebaik-baiknya kepada orang lain? :’)

***

Boleh jadi dalam forum lingkaran kecil kita, Mba yang berperan seolah menjadi ‘guru’ bagi kalian. Tapi… sejatinya kalian juga menjadi guru bagi Mba.

Sebab perkara membina dan dibina adalah rantai kehidupan yang tidak pernah putus dan tidak pernah terpisahkan. Dengan membina, kita akan dituntut terus belajar dan memperbaiki diri serta memposisikan diri selaiknya seorang guru, kakak, saudara, teman, dan sahabat. Banyak sekali seninya. Dengan dibina pun kita akan belajar menjadi seorang pembelajar yang siap merendahkan hati untuk menerima ilmu-ilmu sekalipun kita sudah mengetahuinya. Belajar ridho kepada siapa kita belajar, sebab bukan perkara siapa yang memberi ilmu, melainkan perkara apa yang beliau sampaikan.

Terima kasih untuk selalu berjuang, adik-adik Mba tersayang.

Terima kasih telah menjadi guru kehidupan Mba.

Semoga kita istiqomah dalam jalan ini, untuk menjadi pembelajar seumur hidup. 🙂

 

__________

Yogyakarta, 27 November 2019

10:39 WIB

 

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *