Non Fiksi

Lelakiku Mendewasa

Membersamaimu tentu tidak lagi mudah, sebab usiamu semakin dewasa, usia yang sudah mulai memiliki nilai dan ideologi sendiri. Dibumbui semakin jarangnya kita bersua, membuat tanggung jawabku makin besar sebagai seorang kakak. Memastikan tumbuh kembangmu dari sisi batin, membantu meringankan tanggung jawab papa dalam menjauhkan keluarga dari api neraka. Nas, sama-sama berjuang ya? :’)

Tersebab itulah, betapa bahagia dan harunya hati ini ketika tahu di sebuah acara, dirimu enggan bersalaman dengan ibu-ibu. Tetapi aku enggan menegur. Pikirku tak hanya bertahan lama.

Lantas di penghujung ramadhan, qaddarallaahu dirimu demam tinggi, kemudian harus diperiksa dokter, dokter perempuan. Sesampainya di rumah, kau sedikit menggerutu padaku.
Kak, aku jane ra seneng diperikso mau. Lha kan kudune ora entuk didemek to.” (Kak, sebenarnya aku nggak suka tadi diperiksa -sama dokter perempuan-. Lha kan seharusnya nggak boleh dipegang -bukan mahram-?)
Deg. Ternyata benar, kau sedang belajar menjaga untuk tidak bersentuhan dengan lawan jenis. 🙂 Barulah aku bisa “masuk” untuk berdiskusi lebih jauh…
“InsyaAllah untuk medis, darurat, ada keringanan.” (Meski jika bisa diikhtiyarkan mencari yang sejenis tentu lebih baik). Aku paham kamu masih belajar, bertahap… Karena aku pernah di posisimu, Nas. Dulu, hingga sekarang (untuk kasus-kasus khusus). Masih belajar terus, sepanjang hayat.

Terlihat di berbagai acara kemudian, ternyata kau masih berusaha menjaga…. MaasyaAllah, baarakallaahu fiik, adik shalih… Tentu PR kakakmu ini masih banyak 🙂

Mencoba meraba, sudah sejauh apa keinginanmu untuk semakin patuh terhadap syariat. Semakin kesini semakin terlihat. Tentu kebahagiaan bagiku, karena aku akan lebih mudah membinamu. Juga menjadi cambuk bagiku untuk terus menjadi lebih baik supaya kau punya sesosok contoh yang baik, selain mama. Kakakmu sendiri. Sebab yang kukhawatirkan adalah jika dirimu mengambil contoh-contoh perempuan di luar sana, yang jauh dari syariat islam. Waiyyadzubillah…

Itulah mengapa, semenjak kuliah, sharing pemikiran bersama keluarga aku lakukan ketika sedang bersama-sama. Bahkan hingga kriteria perempuan baik, lelaki baik, bagaimana pilihan caraku berproses mencari suami, kau telan dan kau pahami semuanya secara diam-diam. Dengan memperhatikan. Siapa sangka, ternyata dirimu cukup banyak mengimitasi prinsip, sifat, perilaku, dan pola pikir kakakmu…
Hingga celetukan iseng tapi serius muncul dariku,”Suk nek golek istri, kudu nglewati kakak sik. Tak seleksi.” Wkwk.

MaasyaAllah, baarakallaahu fiik, adik shalih…

Semoga, di lingkungan sekolahmu pun kau selalu memilih lingkungan yang baik, shalih. Sehingga seimbang dengan yang di rumah. Kaupun akan mendapat asupan nutrisi batin yang maksimal 🙂 Kudoakan selalu, insyaAllah… :’)

Semoga ketika Allah perankan diriku menjadi seperti ini di dalam keluarga, insyaAllah aku ridha dan ikhlas ya Rabb. Membantu papa menjaga keluarga. Semampu dan sebisaku. Karena rasanya hina diri ini, jika diperantauan aku membina banyak adik tetapi gagal membina adik sendiri. Lalu, buat apa? :”

Semoga Allah senantiasa memudahkan setiap kita yang bernasib sama, untuk tidak abai terhadap tumbuh kembang adik, kakak kita. Bahkan ayah dan ibu kita, dengan cara tersantun mungkin. Dan ini bukan pekerjaan mudah… tetapi jangan lupa untuk diikhtiarkan.

Sesederhana bertanya kabar mereka, kegiatan mereka, hingga memberi kiriman haduah berupa buku misalnya, mengunjungi kosannya (jika adik/kakak merantau) sekedar makan bersama lalu pulang. Iya sesederhana itu. Do everything we can, for who we live with.. 

Selamat menjemput “surga” yang ada “di mana-mana”, kawan-kawan. 🙂

 

Boyolali, 4 syawal 1440 H/8 Juni 2019

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *