Non Fiksi

Untukmu, Yang Tak Pernah Terlambat Mencintai (1)

“Papa sudah sampai di stasiun.”
Sebuah pesan whatsapp masuk sebelum pukul 04.00 pagi, tepat saat jadwal kereta seharusnya berhenti. Kereta masih berjalan. Ya, kereta berhenti 15 menit lebih lama dari jadwal seharusnya. Hatiku bergetar. Mataku memanas.

Pa, engkau memang tak pernah terlambat menjemputku, sebagaimana engkau tak pernah terlambat mencintaiku…

Sosok lelaki tampan dan gagah sudah berdiri di pintu keluar menanti kedatanganku. Sosok yang rela bangun lebih awal dan pergi sebelum ayam berkokok untuk menjemput putri keduanya.

Sosok yang di saat kepulanganku akhir Maret hingga awal April ini mengucapkan sebuah kalimat yang membuatku mengharu biru,
“Rah, papa lagi suka banget sama surat _____, lagi ngafalin nih!” Allahu akbar. Kemudian sepanjang hari terdengar murottal surat tersebut, pun mengimami shalat juga surat tersebut.

Pa, lagi mau ‘nampar’ aku ya?

Sosok yang melarang keras putri keduanya ini untuk pulang kampung dari Yogyakarta naik motor lagi karena tidak mau terjadi kecelakaan seperti tahun 2017 kembali. Efeknya, beliaulah yang terkadang rela menjemput ke Jogja atau ke tempat bertukar Bus Solo-Yogya dan Solo-Semarang jika aku turun Bus Solo-Yogya selepas maghrib.

Pa.. makasih ya? Meski aku tau beribu ucapan terima kasih takkan mampu terbalas jua.

Sosok sebagai garda terdepan dalam mendukung segala aspek kegiatan positif anak-anaknya (ya…meski kadang ada lobbying-nya juga hehehe) dalam semua bentuk, baik doa bahkan hingga materiil.

Pa, Farah udah nggak bisa berkata-kata lagi…

Sesosok lelaki seperti apapun nanti yang akan mengambil alih sepenuh tanggungjawabmu, takkan pernah kau tergantikan, karena engkau adalah cinta pertamaku, tentu setelah cintaku kepada Allah SWT, juga kepada sosok manusia terbaik segajad raya, Rasulullaah SAW.

Sebab pesanmu kepadaku di beberapa kesempatan,”Farah, besok kalau cari suami, juga yang tetap membantumu berbakti kepada orangtua, ya?” :’)

Papa, engkau lah contoh terbaik betapa berbaktinya engkau kepada Almarhum mbah kakung dan Almarhumah mbah putri, jarak Boyolali-Slawi pun bagai sebesar biji sawi saja rasanya. Maka, pa, percayalah kepadaku, insyaAllah ikhtiar terbaikku mendapatkan sesuai apa yang engkau harapkan, biidznillah, dengan izin Allah…

Ternyata sejenak menjeda dari keriuhan kota pelajar, sejenak menjeda dari rutinitas, memberi makna lebih dalam.

Satu lagi pa, bisa saja dengan mudah aku memberontak dan menyebut segala kekuranganmu, karena tentu papa juga manusia biasa. Tapi, semoga rasa sabar dan syukurku -atas papa sebagai anugerah yang tidak dapat kupilih- selalu dan selalu lebih besar dari semua itu. Aamiin…

Maaf ya, pa? Kalau selama ini Farah sok sibuk? :’)

Boleh ya, pa? Farah ikut bantu meringankan tanggungjawab papa dalam menjauhkan keluarga dari… api… neraka?

Boyolali, 7 April 2019
Yang masih berikhtiar membahagiakanmu, putri keduamu,
Farah Nadia Karima.

Oh ya Ma, kali lain insyaAllah kutulis sebuah tulisan untukmu juga, ya? šŸ™‚

Uhibbukum fillaah…ā™”

_____________________________

Untukmu yang membaca ini,

aku hanya ingin berpesan, juga sebagai pengingat diri bahwa sekurang-kurang apapun orangtua kita, mereka adalah anugerah dari Allah yang kita tidak bisa sekalipun memilih. Ini artinya… Allah berikan ladang amal yang teramaaaaat luas, Allah janjikan ridho-Nya atas luas dan lapangnya kesabaran dan kesyukuran hati kita pada setiap ikhtiar kita menjemput keridhaan ayah dan ibu kita. šŸ™‚

Yang di rantau, yang banyak sekali amanahnya, yang sibuk mengamati perkembangan adik-adik rantaunya dan memastikan mereka baik-baik saja, sudahkah berpikir lebih dalam tentang perkembangan ayah dan ibu, kakak, serta adik? memastikan bahwa mereka baik-baik saja secara lahir serta batin…? :’)

Jangan sampai “kehidupan lingkar kedua” kita mengalahkan “kehidupan lingkar utama” kita, surga juga ada di rumah. šŸ™‚

Allaahu a’lam.

#HardSelfReminder

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *