Uncategorized

Terima kasih Telah Menjaga

Terima kasih Engkau masih berkenan menjagaku, Allah…

Akan sampai pada suatu waktu, ketika Allah hantarkan penjagaan terbaik-Nya di saat diri penuh kehinaan. Di saat diri penuh tak kepantasan. Tidak main-main ialah Al-Qur’an yang setiap manusia beriman menginginkan mencicipi kenikmatan bersamanya. Jauh, jauh lebih dalam dari sekadar lantunan merdunya tetapi justru ejawantahnya dalam kehidupan. Karena Alquran tidak hanya untuk dikagumi, melainkan untuk mengubah akhlak dan adab kita, utamanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala…

Seorang gurunda mengajarkan,

“Tidaklah seseorang itu dikatakan berilmu hingga ilmu yang dia peroleh menjadi perantara hidayah Allah baginya.”

Seorang gurunda juga mengatakan,

“Titik balik kehidupan saya adalah ketika saya mulai bersama Alquran.”

Bentuk mahabbah atau rasa cinta kita terhadap sesuatu secara otomatis akan melahirkan sikap ketaatan, ketundukan, pengagungan, dan rela berkorban. Lantas, kepada siapa kita letakkan mahabbah tertinggi kita? Allah kah? Rasulullah kah? Alquran kah? Jika mengaku iya, sudahkah terejawantahkan menjadi adab dan akhlak sehari-hari? Tentunya pertanyaan ini diluncurkan pertama untuk si penulis sendiri. :’)

Hakikat hijrah ialah pertaubatan atas setiap perilaku salah dan khilaf. Meski perlu mengulang rasa sakit bahkan air mata. Tetapi ketika tujuan kita adalah Allah, menjalankan apa-apa yang Allah suka, bukankah tidak menjadi suatu masalah? Iya, meski harus melampau rasa suka maupun tidak suka.

Semangat berbenah, kita. Kembali kepada fitrah kita sebagai manusia. 🙂

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *