Non Fiksi

Menikahi Iman Sebelum Menikahi Manusia (1)

Menikahi iman sebelum menikahi manusia.
———————–
Sebuah kalimat di atas beberapa kali disinggung oleh kakak-kakak saya. Apa maksudnya?

“Sebelum kalian bersanding dengan lelaki atau perempuan (dalam mahligai pernikahan), sandingkan dahulu jiwa dengan muthmainnahnya.” Ujar seorang gurunda saya.

“Apa itu jiwa muthmainnah, wahai guru?”

“Jiwa yang merasakan bahwa akhirat jauh lebih berharga dan bernilai daripada dunia, jiwa yang tidak pernah ingin lepas dari Tuhannya, dan jiwa yang selalu lapang menerima dan menjalani ‘bolak-baliknya’ nasib kehidupan.”

Sebaik-baik jiwa muthmainnah kita lihat pada peringai teladan terbaik, Nabi Muhammad SAW, di mana dalam sejarah yang tertulis, tidak lain beliau menikahi istri-istri beliau tersebab iman. Tidak heran jika dibersatukannya Rasulullah dengan istri-istri beliau menimbulkan dampak kebaikan yang luar biasa.

Tidak main-main pula, Michael H. Hart memposisikan Nabi Muhammad SAW sebagai orang paling berpengaruh di dunia dalam Bukunya “The 100: A Ranking of The Most Influential Persons in History.”
———————–
Jadi… perkara menikah itu memang bukan perkara yang mudah. Sebaiknya kita memang menikahi iman dahulu sebelumi menikahi manusia. Mengapa? Karena jika iman yang menjadi pelakon utama, kerikil hingga badai yang menerjang dalam perjalanannya sangat tidak ada apa-apanya. Bukan berarti menunggu diri sempurna baru menikah, karena takkan sampai usia kita, karena hanya Allah-lah yang mengetahui perkara keimanan manusia, tetapi ini tentang bagaimana untuk terus berusaha menyandingkan jiwa dengan muthmainnahnya hingga akhir hayat.

Allaahu a’lam.

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *