Non Fiksi

Menyelami Kata, Menggali Makna

Kata benda tidak memiliki keterikatan waktu, artinya ia bersifat permanen. Contohnya: apel, pohon. Sedangkan kata kerja memiliki keterikatan waktu, artinya ia bersifat sementara. Dalam Bahasa arab, dalam Alquran misalnya, ketika membicarakan suatu perbuatan bisa memakai kata kerja maupun kata benda. Susunan dalam Alquran seringkali berbeda dengan penggunaan Bahasa arab selain pada Alqur’an. ‘Seakan’ menyalahi aturan Bahasa Arab yang ada. Akhirnya aku perlahan mengerti kenapa Sayyidina Umar ibn Khaththab bersyahadat tersebab wasilah Alquran, khususnya keterkaitannya terhadap bahasa. Yap, Sayyidina Umar termasuk salah satu sosok yang cerdas pada zamannya, sosok yang memiliki jiwa sastra yang tinggi. Tak heran bahwa Beliau sangat meyakini bahwa ayat yang termaktub dalam Alquran bukanlah buatan manusia.

Yap, kita lanjut tentang kata benda dan kata kerja. Misal kata “ajlisu” artinya aku duduk, “ajalis” juga “aku duduk”. Padahal ajlisu adalah kata kerja yang bersifat sementara sedangkan  ajalis adalah kata benda. Perbedaan keduanya dalam Alquran hampir tak terlihat.

Kita lihat bagaimana Allah menjelaskan bagaimana kecenderungan orang-orang munafik dalam QS. Al-Baqarah (2:14).

وَإِذَا لَقُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قَالُوٓا۟ ءَامَنَّا وَإِذَا خَلَوْا۟ إِلَىٰ شَيَٰطِينِهِمْ قَالُوٓا۟ إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُونَ

Dan apabila mereka berjumpa dengan orang yang beriman, mereka berkata, “Kami telah beriman.” Tetapi apabila mereka kembali kepada setan-setan (para pemimpin) mereka, mereka berkata, “Sesungguhnya kami bersama kamu, kami hanya berolok-olok*.”

*dalam terjemahan yang lain, bermakna bersenda gurau.

Di ayat tersebut dalam terjemahan terdapat “kami beriman” dan “kami bersenda gurau”. Keduanya sama-sama kata kerja. Yang menarik adalah penggunaan “kami beriman” memakai “amana” yang merupakan kata kerja, artinya sementara. Senda gurau memakai “mustahzi’un”, juga merupakan kata kerja, sementara. Dalam terjemahan seperti itu. Padahal senda gurau sebenarnya adalah kata benda, permanen. Maknanya? Orang-orang munafik memiliki tujuan jangka panjangnya adalah setan-setan (red: maksiat). Mereka senantiasa berusaha setia pada dua kubu (red: amal shalih dan maksiat). Tetapi konsistensi mereka selalu pada setan (red: maksiat). Subhanallah. Semoga kita terhindar dari perilaku munafik…

Juga bagaimana kedudukan makhluk Allah dalam memuji kesempurnaan Allah.

Kita manusia, terbiasa bertasbih, mengatakan kesempurnaan Allah baik saat shalat maupun ibadah yang lain. Bertasbih ini ditujukan untuk untuk semua muslim. Tetapi yang membuatku semakin meyakini kasih sayang Allah terlampau luas adalah bagaimana Allah memilih menggunakan kata tasbih di dalam Alquran. Di mana ternyata Allah memilih kata tasbih sebagai kata kerja ketika disandingkan dengan langit dan bumi, dimana kita manusia berada di dalamnya (QS. Ash-shaaf :1), sabbahalillah. Ingat kan, bahwa kata kerja bersifat sementara? Ini artinya Allah mengerti bahwa kita, manusia, tidak bisa menjadi musabbihin, orang yang secara teruuuus menerus memuji kesempurnaan Allah SWT, pasti ada celah khilaf, salah, dan futurnya :’. Ternyata penggunaan kata musabbihin (kata benda; permanen) di dalam Alquran digunakan untuk dua hal, yang termasuk pengecualian, yaitu untuk Nabi Yunus (QS. 7:142) dan untuk malaikat-malaikat Allah (QS. 137:166)… Malaikat yang sejak mereka diciptakan, tugasnya memang hanya bertasbih kepada Allah, tanpa terlewat barang seperempat detik saja. Menarik di sini adalah, kita menjadi mengerti, bahwa Allah menyelamatkan Nabi Yunus ketika berada di dalam perut ikan paus adalah karena Nabi Yunus tidak pernah berhenti memuji kesempurnaan Allah barang setengah detik pun. MaasyaAllah. Tersebab itulah, kita hendaknya mengambil pelajaran dari kisah Nabi Yunus, meski dalam kondisi penuh dengan ketidakmungkinan, prasangka baik kepada Allah harus terus teruuus ditegakkan. 🙂

***

Ah iya, ini hanya secuil hikmah, masih secuil ilmu dari ketakterhinggaan hikmah dalam Alquran. Yang tidak cukup usia ini selesai menyelaminya, apalagi mengejawantahkannya. :’) Apapun itu, jangan menyerah untuk belajar. Tidak ada kata terlambat! Kecuali kematian. Saling mengingatkan dan berbagi kebaikan ya! 🙂

Allahu a’lam. Astaghfirullahal’adzim.

Diambil dari Video Ceramah Ustadz Nouman Ali Khan

Yogyakarta, 7 Januari 2019

#SafarMa’alQur’an Day 1

#QuranicInstituteOfBaitulHikmah

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *