Non Fiksi

Sandaran Hati

Ribuan detik kulalui, denting waktu seringkali tak berbalas suka. Bahkan seringkali melampaui batas-batas rasa tidak suka. Menyelami takdir demi takdir yang terlalu abstrak dan tak jelas ujungnya.

Aku pernah berharap kepada manusia, tapi berujung luka dan air mata.
Aku pernah berharap pada waktu, tapi berujung kecewa.
Aku pernah berharap pada asa dan cita, tapi kecewa justru semakin menganga.
Aku pernah mengalami itu semua, ketika nafsu berkata “Kenapa Tuhan tak pernah mengabulkan doaku?”

Sayangnya, rantai itu sudah putus! Atau aku yang selalu berusaha memutuskannya. Memutus rantai yang membelenggu fitrah suci manusia.

Perlahan aku mulai merasakan rasa hangat memeluk hati nuraniku, menjalar hingga sekujur tubuhku. Luka dan kecewa tiba-tiba terhempas tidak berdaya. Tergantikan oleh air mata yang mengalir hangat di liuk wajah pendosa. Haru atas syukur tak henti membuncah dalam basahnya sujud atas ribuan detik yang berhasil terjabani, atas luka dan kecewa yang pernah tak terobati, ternyata kesemua itu hanyalah tentang ketidaktahuanku atas setiap pesan cinta-Nya yang termaktub dalam kalam suci-Nya. Yang kepada-Nya segala harap pasti berbalas, yang kepada-Nya segala asa dan cita pasti tercipta. Tentu, dengan seni-Nya.

Kini,
aku tahu bahwa hidupku tak menjadi lebih mudah.
Aku tahu bahwa air mata akan tetap ada.
Aku tahu bahwa perjuangan itu masih harus diperjuangkan hingga di detik akhir usia.
Aku tahu bahwa aku masih akan terseok-seok dalam simpuh harap.
Aku tahu betul itu. Aku tahu.
Aku tahu bahwa dunia ini hanyalah sebuah ladang, untuk menanam amal, untuk disemai nanti, di kehidupan yang kekal abadi.

Tetapi,
aku berharap, jika air mata itu harus tetap ada, tidak lain karena menangisi khilaf dan dosa, karena amal yang tak kian melejit demi menjemput jiwa yang tenang.
Jika air mata harus tetap ada, tidak lain karena melelehnya hati atas segala hikmah dalam setiap takdir yang diberikan-Nya, tidak peduli suka atau tidak suka.
Jika harus ada air mata, semoga juga dalam balutan prasangka baik atas setiap ketetapan-Nya, tidak peduli suka atau tidak suka.

Izinkan kami, mengejawantahkan kembali, ‘ikrar’ setiap manusia “Iyyaaka na’budu waiyyaaka nasta’in. Dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Allah, bantu kami menjadikan-Mu menjadi satu-satunya sandaran bagi kami (kembali), untuk terus-terus mencintai dan menjadikan segala yang terjadi di bumi sebagai pelajaran terbaik untuk kembali menuju-Mu; melampaui batas rasa suka maupun tidak suka…

Allah, bantu kami yang penuh kefakiran ini, untuk menyelami sedalam-dalamnya kalam suci yang melalui kekasih-Mu Kau titipkan untuk seluruh umat manusia di dunia, sebagai satu dari dua peninggalan kekasih-Mu. Pedoman dari segala pedoman.

Aamiin. :’)

#SelfReminder

Boyolali, 2 Januari 2019
7.35 WIB.

Karena hanya Engkau-lah, sandaran hati. 🙂

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

3 Comments

  • piniann

    Assalamu’alaikum sahabat. Semoga Allah ‘azza wa jalla senantiasa menjagamu dan memberkahi setiap langkahmu. Terimakasih untuk tulisan yang sudah mengingatkan kepada Allah ‘azza wa jalla. Salam kenal

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *