Uncategorized

Harga Sama Rasa Beda

Senja itu berbeda, karena tak biasanya kujatuhkan pilihanku untuk berangkat ke Jogja naik bus dari Terminal Tirtonadi, Solo. Yap, momen langka bisa turut mengantarkan adik shalih satu-satunya ke tempat berteduh selama perantauan a.k.a. kos-kosan.

Langkah kutujukan pada barisan bus dengan tujuan bertulisan Solo-Surabaya.

“Pak, bus itu ke Jogja juga?” Tanyaku ragu sambil menunjuk sebuah bus berpostur gagah warna orange kemerah-merahan.

“Wah iya mbak. Monggo-monggo. 15ribu saja.”

Karena senja segera berganti malam, akhirnya tanpa fa-fi-fu, kutancapgaslah tekad dan kakiku untuk menaikinya.

MaasyaAllah. WOW. Kok bagus banget ya, batinku.

Wajar saja aku terkesan ndeso ketika memasuki bus itu, selama hampir 1,5 tahun bisa dihitung jari aku menaiki bus Jogja-Solo/Solo-Jogja sebagus itu. Secara bus yang baru saja kutumpangi itu ada bantalnya, dikasih air mineral botol gratis, kursi empuk, AC dingin. Mantap! Dan fasilitas semua itu hanya dihargai Rp15.000. Harga yang sama dengan bus buluk (duh kok jahat ya) yang biasa aku naiki. Maksudnya adalah boro-boro AC, cat busnya saja sudah terkelupas-terkelupas. Boro-boro air mineral gratis, ACnya aja jadi AS -Angin Semilir-. wkwkwk.

Hmm. Bisa gitu ya? Harga sama, rasa beda.

Kerasa ngga sih? Harga sama rasa beda itu erat banget dengan kehidupan manusia. Setiap manusia diberi waktu yang sama, 24 jam. Itu secara kuantitas, secara kualitas seseorang dengan seseorang yang lain bisa jauh berbeda. Tetapi, kenapa ya? Ada tokoh seperti Mba Dewi Nur Aisyah, muslimah yang telah menyelesaikan Doktoralnya di London, melahirkan 2 anak yang shalihah dan 2 buah buku berhasil beliau terbitkan. Atau Almarhumah Ustadzah Yoyoh Yusroh, seorang muslimah sekaligus ibu dari 13 anak sekaligus juga Anggota DPR RI pada zamannya. Tak hanya itu sebenarnya, masih banyak lagi.

Aku suka sekali dengan kata-kata dalam bukunya Mohammed Faris yang berjudul Muslim Produktif,

Ketika keimanan menyatu dengan produktivitas.

Dalem bangat Mas Bro dan Mbak Sis.

Oke baik, aku membahasnya melalui perspektif Islam yah! 😉

Mohammed Faris menjelaskan bahwa produktivitas merupakan perkalian dari fokus, energi, dan waktu (untuk memaksimalkan balasan di akhirat). So so so… produktivitas hanyalah sebuah alat untuk mencapai tujuan, guys.

 

Dilanjut nanti yaaa… hehehe

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *