Non Fiksi

Syukur vs Sesal = Tipis tapi Fatal!

Kamu pernah menyesali ke-tidak-idealan dalam dirimu? Dalam hidupmu? Yang kemudian mengantarkanmu pada jurang yang begitu dalam dan membuatmu sulit sekali untuk bangkit?

Ternyata, syukur dan sesal itu beda tipisPenambahan satu kata bahkan dapat menjatuhkan rasa syukur kita. Yaitu kata ‘seandainya’ (dalam konteks negatif). Dan ini menjadi sasaran empuk bagi iblis untuk menjauhkan kita dengan Tuhan. Mau ga? Ga mau kan? :’

Akhir-akhir ini banyak sekali penyadaran yang hadir, yang seringkali ingin kukeluarkan kalimat,“Ya Allah, seandainya ini aku pahami dulu, tentu saat ini aku akan lebih memahami agama-Mu.” Salah satunya kisahku dalam tulisan Terlambat. Sebisa mungkin kutahan, meski suliiiiit sekali. Ternyata juga, sifat manusia bab ‘tidak bersyukur’ ini sudah diprediksi oleh Iblis jauuuuuuuuuh sebelum lahirnya manusia-manusia setelah adam, yang Allah kasih bocoran dalam Alquran,

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ﴿١٦﴾ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ

أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. [Al-A’râf/7:16-17]

Hasutan iblis ditujukan kepada manusia-manusia supaya mereka tidak bersyukur. Bukan supaya manusia melakukan zina atau yang lainnya. Karena berawal dari ketidaksyukuran, akan beranak pinak menjadi maksiat-maksiat yang lain. Dalam tafsir ringkasnya, sedikit dijelaskan:

“Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” Ini adalah perkataan Iblis kepada Allâh Subhanahu wa Ta’ala yang menyatakan bahwa Engkau (ya Allâh) tidak akan mendapati sebagian besar dari anak Adam sebagai orang yang bersyukur kepada-Mu dengan beriman, bertauhid dan taat kepada-Mu karena usaha penyesatan yang akan saya lakukan.”

Keterlambatan, musibah, masalah, semuanya bagiku adalah nikmat, karena tandanya Allah peduli terhadap kita, Allah ingin kita kembali kepada-Nya, maka jangan terlepas dari memohon hikmah kepada-Nya, supaya segala sesuatu itu kita menghadapinya dengan iman, dengan satu-satunya sandaran; Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

***

Iblis, Fir’aun, dan Qarun adalah ikon-ikon contoh makhluk yang tidak bisa menyandarkan nikmat dan kelebihan yang dimiliki, kepada Sang Pemberi nikmat Allah subhanahu wata’ala. Justru kelebihan itu disandarkan kepada dirinya sendiri. Iblis merasa diri superior. “Ana khairun minhu”, aku lebih baik darinya (Adam). Fir’aun merasa paling berkuasa. Merasa Sungai Nil berjalan di bawah tapak kakinya. Hingga puncaknya mengikrarkan “Ana rabbukumul a’la”. Aku adalah tuhan kalian yang paling tinggi. Sedangkan Qarun merasa kekayaan dan kesuksesannya adalah semata karena kepandaiannya. Karena ilmunya. “Inamaa uutiituhu ‘alaa ‘ilmin ‘indi”, ujarnya. Mereka tidak menyandarkan kenikmatan tersebut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Hal yang berbeda kita saksikan dari Nabi Dawud dan keluarganya. Allah berfirman “I’maluu aala Daawuuda syukran”. Berkaryalah kalian wahai keluarga Dawud, sebagai bentuk rasa syukur. Maka kita pun saksikan, karya mereka dalam menegakkan syari’at Allah di muka bumi. Mereka berkuasa bukan untuk menjajah bangsa-bangsa. Bukan untuk menindas. Tapi untuk menebar keadilan, merealisasikan bahwa Islam adalah anugrah, rahmat untuk semesta alam. Kemudian Allah abadikan penggalan-penggalan syukur tersebut dalam Kitab-Nya yang mulia.
Dalam surat An Naml, mengawali kisah Nabi Sulaiman, Allah abadikan ucapan syukur keluarga teladan ini. Allah berfirman,

وأتينا داود وسليمان علما فقال الحمد لله الذى فضلنا على كثير من عباده المؤمنين

“Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dibandingkan hamba-hamba-Nya yang lain dari kalangan orang-orang beriman”

Mereka Allah karuniai ilmu, kemudian mereka bersyukur memuji Allah. Alhamdulillahilladzii fadhdhalnaa ‘alaa katsiirin min ‘ibaadihil mu’miniin. Mereka mengakui nikmat ini (i’tiraf) dan menyandarkan nikmat ini kepada Allah. Maka Allah tambahkan nikmat berikutnya. Ilmu itu menjadi tali kekang kendali ketika Allah berikan nikmat berupa kelimpahan harta dan tahta. Harta dan tahta bisa menjadi fitnah terhadap ‘diin’ maupun ‘dunya’ seseorang. Tapi tidak bagi insan berilmu dan bertakwa seperti mereka berdua.

Sensitif, peka terhadap nikmat Allah, dan mudah bersyukur kita lihat pada penggalan kisah berikutnya. Suatu hari sang raja yang shalih ini, Nabi Sulaiman, bersama iring-iringan pasukannya berjalan melintasi suatu lembah, “waadin namlah”. Kita tahu, pasukan beliau bukan hanya dari kalangan manusia saja. Jin, binatang, bahkan angin pun Allah tundukkan menjadi pasukan sang raja yang shalih nan bertakwa ini, ‘alaihis salam.

Iring-iringan besar sang raja ini tiba-tiba terhenti mendadak. Bukan karena ada bahaya merintang. Bukan karena bukit runtuh atau pohon tumbang. Bukan karena musuh menghadang. Jauh di bawah sana sang raja mendengar semut berseru. Ya, semut. Makhluk kecil yang tampak tak berdaya. Semut ini memperingatkan kaumnya. “Wahai sekalian semut, masuklah ke dalam rumah-rumah kalian. Agar kalian tidak terinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya tanpa mereka sadari.”

Apa reaksi beliau ketika mendengar hal tertsebut? “Fatabassama dhaahikan..”. Tersimpul senyum di bibir, sambil sedikit tertawa. Hatinya betul-betul tersentuh. Betapa besarnya anugerah Allah sampai beliau bisa mendengar dan memahami bahasa semut. Betapa besar karunia-Nya, sedemikian sehingga nama beliau dikenal di kalangan semut. Sebegitu besarnya nikmat-nikmat ini, hingga lisan beliau pun bergetar, bergumam lirih. Mengucap do’a penuh syukur dari hati. Cermin keimanan.

“Rabbi auzi’nii..an asykura ni’mataka..alladzii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya..wa an a’mala shaalihan tardhaahu, wa adkhilnii min ‘ibaadikash shaalihiin…”

“Wahai rabbku, karuniakanlah kepadaku untuk bisa mensyukuri nikmat-nikmat Mu, yang telah engkau anugerahkan kepadaku maupun kepada kedua orang tuaku. Dan karuniakan pula kepadaku, untuk bisa mengerjakan amal-amal shalih yang Engkau ridhai. Kemudian, masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba Mu yang shalih”.

 

Yogyakarta, 14 November 2018

Pukul 12:04 WIB

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *