Non Fiksi

Menyempurnakan Rasa

Fenomena saat ini, seseorang begitu mudahnya mengumbar segala aktivitas kehidupannya di ruang media sosial. Entah whatsapp, instagram, maupun facebook. Mulai dari aktifitas pribadi (yang menurut saya tidak pantas diunggah) hingga aktifitas bersama teman atau kelompok tertentu. Makan di sini update, makan di situ update, di supermarket, lagi baca buku, ngurus anak, bermesra dengan suami/istri, jalan-jalan bareng keluarga, beli baju baru, beli sepatu baru, and many others. Prasangka baikku adalah mereka ingin membagi momen bahagia mereka ke orang lain. Kamu masuk yang mana? Hehehe.

Kemudian, apakah semua itu salah? Bisa salah, bisa juga benar. Sesuai dengan porsi dan waktu yang tepat. Alih-alih ingin sharing momen bahagia, yang terjadi malah bisa melukai perasaan orang lain, membuat orang lain iri&dengki, atau membuat orang lain kesusahan bahkan kehilangan jadi dirinya. Mengerikan. Kalau sudah begitu, salah atau benar? 🙂

Sampai aku menuliskan ini pun, aku masih belajar. Terus belajar. Terlebih akhir-akhir ini ada seseorang yang menegurku. Aku sedang dan akan terus belajar untuk menyempurnakan rasa.

Iya, menyempurnakan rasa. Karena aku merasakan, terkadang kebahagiaan terasa sempurna tanpa harus dibagikan. Tanpa harus khalayak tahu (kecuali menikah ada baiknya diumumkan, sewajarnya saja). Rasa bahagia terkadang terdegradasi rasanya ketika diunggah ke media-media sosial. Kenapa bisa? Menurutku, karena fokus kita tidak lagi pada rasa bahagia, tidak lagi fokus pada Sang Pemberi Rasa Bahagia, melainkan ada tambahan fokus pada jumlah viewers, likers, atau komentar netijen budiman.

Begitu pula dengan segala sesuatu yang kita anggap kesedihan, kekecewaan, keterpurukan, kegagalan, berkurang maknanya ketika itu semua diumbar-umbar. Rasanya terdegradasi. Kalau terkait masalah, tentu tidak boleh fokus pada masalahnya, tetapi fokus pada Sang Pemberi Masalah! Karena tentu banyak jalan keluar langsung dari yang ngasih masalah. Pasti Dia tau yang terbaik bagi kita. Bukan netijen yang katanya budiman itu :v

Tidak ada pengaruh yang signifikan ketika netijen mengetahui segala aktifitas kita. Jangan-jangan itu hanya keinginan nafsu jahat kita? 🙁

Iya, karena Allah kan ngasih perintah ketika Allah kasih nikmat, kita harus bersyukur supaya Allah nambahin terus nikmatnya. Bersyukurnya caranya gimana? Caranya disyukuri dalam hati, lalu pakai Instagram, Whatsapp, Line, ataupun apapun media sosial kita (dan juga di dunia nyata) untuk mengingatkan orang lain dalam hal kebaikan, mengajak orang lain berbuat baik, mencegah keburukan terjadi, berbakti kepada orangtua, memotivasi, menginspirasi, dan masih buanyak lagi. Karena percaya nggak percaya, apapun yang kita unggah di media sosial hanya memiliki 2 peluang yaitu kebaikan yang beranak pinak, atau keburukan yang beranak pinak 🙁 Pilih yang mana? Aku percaya, kamu pasti pilih yang baik. 🙂

Begitu juga dengan ujian yang menimpa kita. Kita diminta Allah buat sabar dan shalat serta meminta pertolongan-Nya semata, bukan buat update story. Hiks. Karena siapa lagi yang tahu jalan keluar selain Dia. Masa mintanya sama netijen budiman yang asal muasalnya sama kek kita, penuh salah dan dosa. :’

Jadi, betapa pentingnya menyempurnakan rasa, supaya hati kita tetap khidmat dalam tunduk sabar dan syukur kepada-Nya…

 

Allaahu a’lam…

Yogyakarta, 12 November 2018

Pukul 16.12 WIB

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *