Non Fiksi

Saling Memaknai

Berkah Menjaga Silaturahim

6 tahun lalu, tahun 2012, di training kemuslimahan akbar perdana di kota Bandung yg saya isi, ada seorang peserta termuda, masih duduk di bangku SMA, datang jauh-jauh menggunakan kereta dari kota Boyolali, terpisah puluhan kilometer dari tempat training.

Malu-malu.. peserta muda satu itu memasuki ballroom, mengikuti rangkaian 2 hari training full day, mengalun dalam tawa dan tangis, menutup pertemuan dengan memberikan saya hadiah: kerudung segiempat berwarna merah muda, disertai dengan sepucuk surat hasil goresan tangan sendiri sebagai tanda terimakasih yang – tanpa ia ketahui – menjadi salah satu alasan kenapa saya masih terus menjalani profesi trainer pengembangan diri muslimah sampai saat ini.

Saya merasa begitu berharga dan berguna karena isi surat tsb, surat yg masih saya simpan baik-baik.

6 tahun kemudian, tahun 2018, saat saya dan Baba terbersit ide untuk menggelar workshop offline 2 hari untuk 2 kelas: “Belajar Jadi Suami & Istri” dan “Belajar Jadi Ayah & Ibu” di kota Jogja, tiba-tiba terbersit namanya utk kami tawarkan kesediaannya menjadi tim panitia lokal, membantu kami perihal teknis.

Sebagai pemegang prinsip kekeluargaan yang kuat, biasanya saya dan Baba memang mengutamakan orang yg kami kenal dulu untuk dijadikan tim panitia lokal. Dan namanya jadi prioritas utk kami hubungi krn seingat saya, ia saat ini sedang kuliah tingkat akhir di UGM Jogja.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, rupanya ia pun menanti kedatangan kami ke Jogja: “Mau silaturahim lagi, Teh..” ujarnya santun melalui direct message.

Finally kami berkoordinasi ini itu melalui WhatsApp, kemudian baru tatap muka H-1 acara, dan bekerjasama dgn sangat apik di keesokan harinya.

Ia jadi orang pertama yg tau hecticnya kerjasama belakang layar saya dan Baba kala mengisi training berdua.

Bahwa kami harus bergantian menemani Saif di saat yg satunya mengajar. Dan bahwa sebagai tim, ia harus selalu siap kuota untuk live IG agar saya tetap bisa memantau sejauh mana materi yg dipaparkan Baba agar tetap bisa nyambung saat giliran saya masuk, begitupun sebaliknya. Hehehe.

Berkah menjaga silaturahim 6th.
Farah Nadia Karima, namanya 🙂

Sebuah caption yang membuatku menitikkan air mata saat membacanya. Bukan karena aku dibuatkan tulisan oleh beliau di akun instagram beliau, tetapi karena ternyata kita saling memaknai persinggahan selama hampir 6 tahun ini. Justru aku terkaget atas cerita Teh Pepew di atas. Bahkan aku sudah lupa isi surat yang kutulis untuk Beliau. Sama sekali lupa :’D. Tak pernah kukira juga bahwa sebuah ketidaksengajaan memencet sebuah akun @pewski di twitter 6 tahun yang lalu ternyata bersambung hingga saat ini. Saat Teh Pepew masih mulai berhijrah hingga saat ini sudah memiliki satu anak dan menjadi Trainer Sekolah Rumah Tangga, Praktisi Fitrah Based On Education.

Maka benar jika tidak sekalipun ada kebetulan di dunia ini. Yang ada hanyalah semua telah melalui perencaan sempurna dan terbaik oleh-Nya.

Jika boleh aku flashback, tanpa Beliau ketahui pula, Teh Pepew menjadi perantara-Nya yang luar biasa dalam penguatan hijrah-ku di awal dahulu. Semenjak kenal Beliau pula, aku mulai menyenangi dunia berbagi dan menulis. Banyak konsep kehidupan beliau yang tanpa sadar ternyata terinternalisasi dengan baik dalam diri. Aku juga tidak tahu kenapa bisa, yang kutahu semua karena izin-Nya. Allaah titipkan misi indah-Nya melalui Beliau ini.

Jika dikatakan sesuatu itu berkah ketika bertambah kebaikan-kebaikan selanjutnya, maka semoga seperti itu. Hingga detik aku menuliskan ini, manfaat yang diberikan oleh Teh Pepew masih sangat terasa.

Semoga Allah merahmati Teteh sekeluarga. 🙂

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmusshalihaat.

***

Connecting people in the past. Setiap orang yang singgah selalu memiliki makna baik, tinggal bagaimana kita menyikapi dan memaknai kehadirannya.  Juga karena hal ini, seringkali tiba-tiba aku merasa haru, syukur, atas kehadiran mereka. Bagaimanapun keadaan mereka, semenyebalkan apapun mereka. Berat memang, terlebih saat iman melemah, rasa-rasanya hanya prasangka buruk saja yang ada. Ah iya… memang iman yang menjadi pelakon utama, bukan lagi rasa ataupun logika.

Saatnya berterima kasih kepada orang-orang di sekitar kita. 🙂

 

Yogyakarta, 12 Oktober 2018

1:53 pm

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *