Non Fiksi

Terlambat (?)

“Ustadz, ada kenalan Ustadzah yang bisa ngajar Durusul Lughoh Al-‘Arabiyyah tidak ya?”
Tulisku via chat whatsapp seraya ingin melanjutkan belajarku dengan beliau dahulu.

“Wah, banyak. Mau berapa?”

Seketika hatiku berbunga.

“1 aja Ustadz hehehe. Ingin privat.”

Diberikanlah sebuah kontak nomor Whatsapp seorang ustadzah, yang kemudian kupanggil dengan sebutan mbak karena beliau inginnya demikian.

Setelah perkenalan singkat… seperti biasa aku selalu kepo dengan orang yang sangat mahir berbahasa arab.

“Mbak… dulu belajar bahasa arab dimana dan berapa lama?”

“Di Gontor dek, 11 tahun. Belajar Bahasa Arab memang nggak bisa hanya 1-2 tahun dek. Bertahun-tahun.”

Seketika juga hatiku seperti dihujani ratusan pisau. Sakit tapi tak berdarah. Ingin menangis tapi tak keluar air mata. Ingin menjerit tapi tak bisa. Sudah terbayang bagaimana mahirnya Si Mbak ini memahami Bahasa Arab di usia Beliau yang hanya selisih usia denganku tiga tahun. Rasanya saat itu juga aku menjadi orang terbodoh sedunia. Apa yang kau pelajari selama ini, Far…? Aku mengasihani diriku sendiri.

Kami bersepakat untuk mulai belajar pekan depannya. Kesempatan ini tak boleh kusia-siakan. Aku sudah berazzam kala itu, sejauh apapun rumah Mba-nya akan kujabani. Ternyata rumah Beliau di Jalan Bantul. kurang lebih 30-45 menit waktu yang harus kutempuh untuk kesana. Di saat yang sama aku ingin merasakan nikmatnya menuntut ilmu dengan sedikit berpayah… Tapi, payah apa sebenarnya? Masih tidak apa-apanya dibandingkan ulama terdahulu.

Kenapa begitu kekeuh aku mencari ustadzah yang bisa mengajarkan Bahasa Arab dengan kitab Durusul Lughoh Al-‘Arabiyyah? Karena sepanjang 3 tahun mencari metode belajar Bahasa Arab yang cocok, baru kutemukan “sakinah” dengan kitab ini. Kitab yang digunakan sebagai bahan ajar di Gontor serta Madinah. Dijamin nagih insyaAllah. Apalagi untuk pemula macam saya. :’

TERLAMBAT

Ada yang bilang bahwa “Tidak ada kata terlambat.”. Bagiku juga tetap ada kata terlambat. Coba bayangkan ketika pilot baru belajar mengendarai pesawat saat hari H penerbangan? Terlambat, bukan? Keterlambatan bukan melulu selamanya menjadi hal yang buruk. Keterlambatan ketika diakui dengan jujur dan ikhlas maka pada saat itu juga kita akan berusaha untuk melejit, membalas kesalahan kita di masa lampau. Pernah merasakannya?

Meski aku mengasihani diriku sendiri atas keterlambatan mengetahui Bahasa Arab di usia yang seharusnya sudah bisa melanjutkan ke kehidupan yang lebih kompleks, tetapi porsi syukurku jauh lebih banyak ketimbang menyalahkan dan mengasihani diri sendiri. Aku kembali merasakan kenikmatan mencari ilmu. Sungguh…

Yang aku tahu, ketika aku perlahan mempelajari Bahasa Arab, aku semakin mencintai Al-Qur’an, pun aku juga merasa semakin mencintai Allah. Padahal aku baru belajar sangaaaaaaat amat sedikit. Mungkin sebesar butiran micin, bahkan lebih kecil. :’)

Untuk kamu yang bernasib sama denganku, tidak ada gunanya mengutuk diri yang telah lalu atau mengutuk orang tua dan lingkungan atas pola didik yang salah. Sungguh tak ada gunanya! Lebih berarti untuk kita jika kita bisa memutus rantai itu, dengan belajar, belajar, belajar, dan belajar tanpa henti. Anak-anak kita kelak berhak mendapat ibu yang hebat. Bukan ibu yang sejak zaman mudanya sudah bermalas-malasan dan meratapi kesedihan.

Terngiang kembali perkataan Ustadz Deden Herdiansyah, salah satu gurunda di pondok kemarin,

“Di Asma Amanina memang kalian tidak diberi satu ilmu yang sangat mendalam. Kami berusaha memberikan banyak ilmu supaya kalian tersadar bahwa banyak sekali ilmu yang harus dipelajari. Ibarat pemantiknya saja.”

Mafhum. Benar sekali Yaa Ustadz. Santrimu ini benar merasakannya. Semoga Allah senantiasa merahmati Asatidzah di PPMi Asma Amanina. Aamiin…

Ya Allah jika tidak sampai usiaku untuk menuntaskan Bahasa Arab, izinkan aku meninggal dalam nafas jihad, jihad untuk memahami bahasa kalam suci-Mu. :”

Dan semoga tak hanya ilmu Durusul Lughoh Al-‘Arabiyyah saja. Aamiin..

Astaghfirullah..

Allaahu a’lam…

 

Yogyakarta, 11 Oktober 2018.

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

2 Comments

Tinggalkan Balasan ke Farah Nadia Karima Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *