Non Fiksi

Membuka Hati

Setiap manusia memiliki tingkatan fase dalam kehidupannya. Fase naik-turun, baik-buruk, jatuh-bangun, cinta-benci, maupun suka-duka. Hingga di ujung hembusan nafas, manusia takkan luput dari kesemuanya itu. Bukankah tidak beriman seseorang sebelum ia benar-benar diuji?

Ketika menengok diri, ada hal menarik di sepanjang perjalanan hingga kini. Jika boleh dikata, perjalanan hijrah dimulai kelas 2 SMA. Experience-ku dalam hijrah bertolak dari perihal cinta. Tak heran jika awal fase hijrah itu topik obrolan tak jauh dari cinta dan jodoh atau semacamnya. Ini terjadi hingga masa-masa awal perkuliahan. Beruntungnya, Allah hadirkan seorang teman dekat yang seringkali menegur,”Duh Far, kok bahasanmu jodoh mulu.”. Teguran itu tak hanya melayang sekali dua kali saja, melainkan berkali-kali. Teguran di awal-awal benar-benar hanya masuk telinga kanan lalu keluar dari telinga kiri. Tetapi tak berlaku di teguran yang kesekian. Aku mulai mengindahkan dan merenunginya. Alhasil, setelah beberapa waktu, biidznillah aku berhasil! Berhasil menghalau pembahasan itu dan beralih ke kegiatan yang lebih bermanfaat lainnya. Berlebihannya, aku sampai membuat barrier atau batas dalam hati dan pikiranku terhadap segala hal tentang jodoh, cinta, dan pernikahan. Bahkan ada seorang teman ikhwan mengirimiku poster kajian tentang cinta tetapi dengan tegas aku menolak,”Afwan saya sedang mengurangi kajian seperti ini.”

Segala yang berlebihan dan berkekurangan memang tidak baik. Cukup ambil porsi sesuai kebutuhan saja.

Kondisi ini berjalan hampir 3 tahun lamanya. Aku masih menutup diri terhadap segala hal tentang jodoh, cinta, dan pernikahan. Hingga akhirnya, ada sebuah momen titik balik kembali akan hal ini. Melalui perantara Teh Febrianti Almeera dan Kang Ulum yang membuka mata dan hatiku untuk menghancurkan barrier yang kuciptakan sendiri. Titik sadarku hadir saat aku dimintai tolong menjadi panitia lokal workshop “Strong From Home: Belajar Menjadi Suami Istri & Belajar Menjadi Ayah Ibu.”

Allah memang sangat keren. Dalam hal sekecil apapun aku meyakini bahwa tidak ada yang kebetulan. Karena daun yang berguguran pun Allah telah atur sedemikian rupa. Apalagi urusan yang lebih besar daripada itu?

Workshop yang sama sekali tidak melahirkan “Baper” itu membangunkanku kembali bahwa semua itu adalah ilmu. Ilmu yang tidak hanya untuk investasi di dunia, tetapi juga di akhirat. Jika kupisahkan ilmu pernikahan itu dari kehidupan, berarti ke-syumul-an islamku dipertanyakan. Di sinilah aku bisa berdamai dengan diri sendiri (kembali). Alhamdulillah. 🙂

Ternyata Allah izinkan dan mempermudah jalanku untuk mempelajari ilmu ini secara lebih dalam dengan bergabungnya aku di Sekolah Rumah Tangga (Kelas Belajar Jadi Istri) yang Teh Pepew inisiasi bersama suaminya.

Ya Allah, bagaimana bisa aku tidak semakin mencintai-Mu?

Di sini pula aku ingin menyanggah pernyataan “Yang dipikirin nikah mulu, ngga mikirim kematian.”. Agaknya bagiku keliru pernyataan tersebut setelah kurenungi beberapa saat. Setelah mendapat insight-insight baru dari gurunda-gurunda. Mempersiapkan pernikahan sama dengan mempersiapkan kematian. Mempersiapkan kematian sama dengan mempersiapkan pernikahan. Dengan syarat semuanya dalam koridor syariat Islam.

Ya, berdamai dengan diri sendiri memang sulit. Tetapi jangan menyerah untuk berpikir dan menggali hikmah. Karena barangkali kau akan temui banyak kebaikan setelah berdamai dengan diri sendiri. Selamat bahagia!

Yogyakarta, 12 Oktober 2018 pukul 00.10 WIB

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *