Non Fiksi

Riuh di Bumi dan di Langit

Aku kagum dengan dirimu yang begitu riuh dibicarakan di bumi. Kamu seperti ada dimana-mana hingga layak aku bertanya,”Siapa yang tak mengenal dirimu?” Manfaatmu begitu dirasa penduduk bumi yang merindui-Nya. Ah iya, kau juga perantara kebaikan-Nya.

Aku iri denganmu yang begitu bersemangat memberi manfaat, dengan apapun juga yang kau miliki. Tenagamu, hartamu, pikiranmu, hingga hatimu. Terlebih lagi kau telah menemukan ‘dirimu’ sejak jauh hari. Pantas saja namamu begitu riuh dibicarakan dan dirindukan di bumi karena di luar sana masih banyak yang kebingungan menentukan siapa dirinya dan akan seperti apa dalam khidmatnya untuk umat. Kamu sudah siap untuk melanjutkan kehidupan.

Ah baru kuingat satu hal penting, penting melebihi semua yang kusebut di atas. Bahwa tiada guna riuh dibicarakan di bumi tetapi sepi dibicarakan di langit. Aku yakin kamu sudah tau dan sedang menuju kesitu. Kita sama-sama tau. Tidak ada yang lebih indah jua selain didoakan Tuhan kita seraya berucap kepada malaikat-malaikat serta seluruh penduduk di bumi,”Dia hamba-Ku, doakan dan cintai dia.” Romantis sekali bukan…? :’)

Hingga di ujung tanduk usia Allah memanggil,”Yaa ayyatuhannafsul muthmainnah…”

Semoga cita-cita kita sama, riuh di bumi karena manfaat dan jauh lebih riuh di langit karena Allah mencintai kita.

 

Adzan shubuh berkumandang.

Yogyakarta, 11 Oktober 2018

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *