Non Fiksi

Berdamai dengan Diri

Dulu kukira berdamai dengan diri itu hanya berkaitan dengan segala sesuatu yang menyedihkan, menyakitkan, ataupun mengecewakan. Wajar dan sudah sepantasnya memang untuk berdamai dengan diri dengan hal-hal tak menyenangkan tersebut. Seperti hakikat sabar dalam musibah. Kini aku mengerti bahwa berdamai dengan diri adalah salah satu turunan dari makna “sabar”.

Tetapi agaknya aku juga tersadar bahwa berdamai dengan diri juga merupakan turunan dari makna “syukur”. Syukur atas nikmat yang Allah berikan. Justru di saat kondisi ini, manusia seringkali terlupa dengan Tuhannya. Ketika berdamai dengan diri, ia juga akan berdamai dengan hati, kemudian ia akan kembali kepada Tuhannya, kembali kepada fitrahnya sebagai manusia.

Salah satunya adalah karunia perasaan, khususnya adalah perasaan kepada lawan jenis.  Bukankah ia adalah sebuah nikmat juga? Adalah sebuah fitrah dari Allah? Tersebab dihadirkannya perasaan, dilengkapi dengan akal, serta nafsu yang membedakannya dengan makhluk hidup lainnya; tersebab itulah derajatnya dapat lebih tinggi dari malaikat jika ia bertakwa…

Sayangnya, tak mudah bagi sebagian orang untuk berdamai dengan dirinya sendiri atas hadirnya perasaan itu. Bisa jadi karena trauma yang masih tersisa atas masa lalunya, ketidakmampuan dirinya untuk meng-handle diri dan perasaannya, atau karena ketakutan-ketakutan yang lain yang sulit didefinisikan. Padahal jika ia sulit berdamai dengan dirinya sendiri akan nikmat ini, bahaya… ia akan jauh dari koridor yang seharusnya. Padahal perasaan kepada lawan jenis adalah fitrah… kita tidak bisa menolaknya hadir. Yang bisa dilakukan adalah berdamai dengan diri untuk menyadari bahwa itu adalah fitrah, kemudian menjaga cara menyikapi perasaan itu supaya tetap di jalan yang lurus, ya… apalagi kalau bukan jalan menuju Allah? Telah disampaikan kepada penduduk bumi, bahwa jika telah mampu maka menikahlah… namun, jika belum mampu berpuasalah.

Berdamailah dengan diri, kejar ketenangan jiwa dengan melangitkan doa, menghadiri majelis-majelis ilmu, dan mendatangi orang-orang shalih, maka insyaAllah ‘sakinah’ bersama-Nya menjadi terasa lebih dekat. Dan kau akan lebih jernih, bijak, dan dewasa dalam memandang rasa yang tak diundang itu.

Ah iya mengulas bahasan seperti ini takkan pernah usai. Perkara hati memang kerja sama dari banyak pihak. Jangan saling menyalahkan, karena berkaca pada diri sendiri jauh lebih tepat. 🙂 Baca tulisan terkait di Namanya Hati 1, Namanya Hati 2, Namanya Hati 3, dan Namanya Hati 4. Semoga bermanfaat!

Semoga Allah berikan jalan keluar terindah atas setiap azzam yang lurus dan kuat. Bukankah seperti itu?

 

-JOG 8/10/18-

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *