Non Fiksi

Namanya Hati (4)

Teruntuk sepasang lelaki dan perempuan di masa depan,
yang dipertemukan karena Allah menghendaki penyatuan,
bisa jadi kalian sebelumnya sama sekali tak saling mengenal. Atau kalian hanya pernah berpapasan tanpa saling tahu, atau juga kalian dulunya adalah teman satu perjuangan. Tiba-tiba kalian dipertemukan, disatukan dalam kurun waktu yang sangat singkat. Misteri, bukan?

Tersebab itulah akan banyak sekali sudut pandang yang hadir setelah ‘Arsy itu bergetar karena ikrar lelakimu yang begitu khidmat.
Lelakimu atau perempuanmu seperti tamu yang kemudian menjadi teman berjuangmu di dunia menuju Tuhanmu. Bayangkan jika cara pandang kalian terhadap kehidupan tak pernah sekalipun kalian satukan. Terkait visi misi hidup kalian, terkait pengelolaan keuangan kalian, terkait pola didik anak kalian, dan semua hal lainnya. Ah iya, jika boleh ditarik jauh sebelum itu, itulah mengapa perlu jeli sekali dalam melihat agama calon teman berjuang seumur hidupmu.

Teruntuk sepasang lelaki dan perempuan di masa depan,
adalah sebuah keniscayaan kalian mengharapkan lahirnya penerus peradaban dari rahim perempuanmu. Ia berhak memiliki orangtua yang shalih dan shalihah. Ia berhak memiliki orangtua yang hebat! Yang kelak ketika ditanya “Siapa teladanmu di dunia, nak?” Kemudian dia jawab dengan bangganya,”Tentu Ayah dan Ibu saya!” Tolong, berusahalah sekuat tenaga untuk tidak berdalih atas pemikiran ketidakmampuan menjadi lebih baik karena pengalaman dan referensi kalian di masa lalu yang berbeda, yang bahkan kalian anggap buruk. Berusaha! Berusahalah menggapai takwa. Yakinlah bahwa fitrah semua manusia itu BAIK. Jangan berhenti berusaha menjadi hamba terbaik-Nya. Ingat, penerus kalian berhak mendapatkan orangtua yang shalih dan shalihah.

Keluarga adalah buah dari penyatuan agung lelaki dan perempuan serta anak-anak yang terlahir kelak, yang seharusnya bersatunya mereka melahirkan kebaikan, kebermanfaatan, serta kemaslahatan yang jauh lebih besar untuk umat.

Teruntuk sepasang lelaki dan perempuan di masa depan, bersediakah menurunkan segala ego untuk menyemai peradaban yang lebih baik…?

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *