Non Fiksi

Namanya Hati (3)

Teruntuk kita, perempuan dan lelaki…

Perihal menjaga hati adalah kerjasama banyak orang. Termasuk kita yang mengaku punya banyak teman.

Berhentilah mencie-ciekan teman perempuan dan lelaki kita, karena tak semua bisa diperlakukan seperti itu. Tak semua SANGGUP diperlakukan seperti itu. Apa kita sadar? Saat kita mencie-ciekan mereka, barangkali kita juga sedang memporakporandakan benteng hati mereka yang telah mereka susun bertahun-tahun. Mungkin juga kita tidak tahu seberapa jatuh bangunnya mereka menyusun benteng hatinya kembali.

“Ah segitunya kah?”
Mungkin ada yang mempertanyakan karena belum pernah mengalami. Wajar saja. Tapi ya. Jelas. Segitunya. Takkan hadir api tanpa sebab, bukan? Karena bisa jadi berawal dari laku kita mencie-cie mereka, rasa yang biasa saja menjadi tak biasa dan berpotensi sebagai pemicu hal-hal tidak baik lainnya.

Cukup dengan tidak mencie-ciekan, kita telah membantu teman kita dalam menjaga hatinya.

Ya, HATI. Jika segumpal daging bernama hati itu baik, maka bagian tubuh yang lain juga baik. Hati atau Qalbu menjadi kemudi yang menggerakkan pikiran menjadi amal. Maka jelaslah setiap pilihan yang kita ambil sangat bergantung dengan kondisi HATI kita. Seberapa dekat hati dengan penciptanya.

Maka, mari saling bekerjasama dalam perihal menjaga hati. Mari jaga dan kembalikan hati tetap pada fitrahnya.

©farahnadiak

Hanya seorang hamba yang berusaha untuk terus belajar dan mengajarkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *