Non Fiksi

Frame of Life

Frame of Life.

WhatsApp Image 2018-09-18 at 23.18.15

Tanggal 14-15 September yang lalu aku dimintai tolong untuk membantu sebuah acara dari pembicara yang jauh-jauh datang dari Bandung ke Yogyakarta. Seorang inspirator yang dulu (hampir 6 tahun yang lalu) secara tidak langsung membersamai diri ini di awal langkah hijrah, Febrianti Almeera, yang saat ini sudah ditemani sang suami dan si buah hati kemanapun Teh Pepew pergi. Alhamdulillah Allah masih menjaga persaudaraan ini. Sebuah acara bertema besar “Strong From Home” dengan turunan 2 workshop berjudul “Menjadi Suami dan Istri” dan “Menjadi Ayah dan Ibu”. Yap, keduanya adalah tema tentang pernikahan. Tema yang beberapa tahun belakangan ini saya hindari. Mungkin kala kemarin itulah pertama kalinya saya mengikuti workshop mengenai pernikahan hingga se-intensif itu. Berkah jadi panitia, tetapi juga sekaligus mendapatkan ilmunya. Dan hampir di setiap episode pematerian, I got my AHA-moments! My deepest AHA-moment is about Frame of Life. Sesuatu yang seringkali luput dan memicu konflik-konflik bermunculan.

***

Yap! Frame of Life merupakan hasil dari gabungan Frame of Experience dan Frame of Reference. Cara pandang final seseorang tentang kehidupan sangat dipengaruhi oleh cara pandang yang dibentuk oleh rangkaian pengalaman selama hidup dan cara pandang yang dibentuk oleh input informasi/referensi yang dikonsumsi atau didapat di masa-masa yang telah berlalu baik melalui apa yang dilihat, dibaca, ataupun didengar.

Capture

Rumus ini dijelaskan dalam konteks rumah tangga, dimana penting sekali dalam penyamaan Frame of Life pada setiap pasangan, terlebih pasangan yang baru saja menikah. Aku mengamini penjelasan Kang Ulum, suami Teh Pepew, yang menjelaskan bahwa konflik itu akan sangat mungkin banyak terjadi jika tidak ada upaya penyamaan Frame of Life karena ibarat dua orang baru saja dipertemukan (tanpa proses pacaran dan semacamnya), tentu akan banyak sekali experience dan reference yang berbeda. FoE dan FoR tiap pribadi pastinya berbeda. Oleh karenanya, sangat penting penyamaan Frame of Life supaya FREKUENSI-nya jadi SAMA baik dalam segala aspek seperti visi dan misi hidup (ini paling mendasar), konsep pola asuh anak, penyelesaian problem dalam rumah tangga, pola didik anak, konsep rumah, kelola keuangan, daaaaan banyak hal lainnya tak terkecuali hal sesederhana handuk diletakkan di mana. Dan kesemuanya itu haruslah berpedoman teguh pada ISLAM: Al-Qur’an dan As-sunnah. I’m sorry, no excuse!. Pelajaran buatku yang masih single adalah betapa pentingnya memilih calon suami yang satu fikrah, yang satu visi serta misi. Karena menikah adalah ikatan yang agung sehingga seharusnya dipersatukannya kedua insan menghasilkan kebaikan dan kebermanfaatan yang semakin dahsyat!

Sama sekali tidak memunculkan baper ikut workshop ini, justru semakin membuatku berpikir semakin dalam, menilisik diri lebih jauh lagi, bahwa memang benar, sebelum ke tahap pernikahan ada hal yang jauh lebih penting yaitu menikahi IMAN terlebih dahulu, termasuk mematangkan konsep diri sebelum memikirkan konsep pasangan maupun konsep keluarga. Allah first, Allah now, Allah then, always Allah… Pasangan hanyalah teman perjalanan menuju syurga dimana Allah haruslah tetap nomor satu dalam sanubari. Tetap saja tidak boleh menyandarkan segala sesuatu ke manusia, kan? Termasuk pasangan sekalipun. 🙂

***

Hei! Karena saat menghadiri workshop itu aku masih single aku justru mendapat banyak insight baru dari FoL ini. FoL ini bagiku tidak hanya relevan dipraktikkan di kehidupan rumah tangga suami-istri, tetapi juga di kehidupan anak-orangtua. Setelah aku merenungi FoL ini, ternyata I’ve done it and I’m doing it. Meski aku dilahirkan dari ahim ibu dan ditumbuh-kembangkan orangtua, tetapi memang banyak experience dan reference di antara kami yang berbeda. Oleh karenanya, tak jarang semenjak memutuskan untuk berhijrah, cukup banyak perbedaan sudut pandang terhadap kehidupan. Qadarullah, Allah memberikan diri ini banyak kesempatan belajar agama islam dibandingkan mereka. Tentu proses penyamaan Frame of Life ini berlangsung seumur hidup. Hingga detik ini setidaknya aku telah menyamakan FoL dengan orang tua terkait keberlanjutan pendidikan, proses menuju pernikahan dari cara awal berproses hingga hal teknis pernikahan, dan beberapa prinsip kehidupan yang lainnya. Jika disebut ini sebagai salah satu ikhtiar mentarbiyah mereka, mungkin bisa saja… ya selama belum memiliki keluarga sendiri, sebagai seorang anak yang diberi Allah kesempatan lebih, maka dakwah terdekat ya di keluarga, mengikhtiarkan diri menjadi shalih untuk membantu orang tua di akhirat kelak; tentu dengan dibersamai adab dan akhlak yang baik. 🙂 ke adik dan kakak pun… I’m tryin’.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” [QS. At-tahrîm :6]

***

Ah iya, setelah merenung kembali, FoL bisa diterapkan di mana saja, kapan saja, dan bersama siapa saja! Bersama teman satu kamar di kos, teman satu kos, teman satu kontrakan, teman satu organisasi, dan bersama orang-orang yang lain; tentu durasi penyamaan FoL bisa berbeda-beda tiap case-nya. Contohnya seperti si A suka datang ke majelis ilmu karena experience dan reference-nya menuntunnya seperti itu, sedangkan teman kamarnya tidak suka datang ke majelis ilmu karena tidak ada pengalaman dan referensi yang mengajarkannya untuk menghadiri majelis macam itu. Akhirnya si A melakukan PDKT ke temannya dengan berbagai cara bagaimana mentransfer supaya cara pandang terhadap pentingnya mendatangi majelis ilmu bisa sama. Pun pada akhirnya belum bisa satu frekuensi, tentu bukan suatu masalah! [Bukan suatu masalah dalam konteks pertemanan tapi ya, karena singgahnya mereka hanya sebentar. Berbeda dengan pasangan suami-istri yang hampir setiap detiknya mereka bersama hingga akhir hayat jika Allah menghendaki]. Percayalah ketika kita memahami sebaik-baik FoL adalah Islam, secara tidak langsung dalam penyamaan FoL kita dengan orang-orang, ada transfer kebaikan di sana; secara tidak langsung juga kita sedang berdakwah. MaasyaAllah. Let’s do that!

Ssst. Penting ya ternyata memilih lingkungan yang shalih karena memiliki banyak FoL yang sama. Jadi, untuk meluncurkan sebuah kebaikan yang besar menjadi lebih mudah, insyaAllah. 🙂

Lantas… saatnya memperkaya experience dan reference dengan kebaikan-kebaikan, sehingga cara pandang yang terlahir juga baik, dan ini sangat menentukan siapa diri kita di masa mendatang. Tidak terkecuali saat melakukan pertanggung jawaban kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sejatinya hidup hanyalah sekumpulan pilihan-pilihan yang merupakan wujud dari cara pandang kita terhadap kehidupan, yang menguji apakah pilihan kita tersebut mendekatkan diri kepada-Nya, atau justru sebaliknya.

 

 

Yogyakarta, 18 September 2018

23.00 WIB

Griya Nusaibah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *