Non Fiksi

Saya, FLP, dan Dakwah

Screenshot-2018-4-4 Farah Nadia Karima ( farahnadiak) • Instagram photos and videos.png

“Menulis adalah bagian dalam menjumput hikmah yang berserakan, merajutnya indah menjadi untaian yang bermakna.” – Farah Nadia Karima

“Farah, ajarin saya nulis dong…”

Sebuah kalimat di atas seringkali terlontar dari mulut beberapa teman dekat saya. Lah… saya tak tahu harus menjelaskan seperti apa karena selama ini saya menulis hanya dengan kehendak hati saja; tidak ada yang benar-benar mengajari. Untuk ditodong permintaan seperti itu juga saya masih jauh dari kata pantas. Sangat amat jauh. Tulisan saya masih belum apa-apa.

 “Tulis aja apa yang kamu ingin tulis. Serius. Bagus atau nggaknya mah itu belakangan aja.”

“Belajar menulis adalah belajar menangkap momen kehidupan dengan penghayatan paling total yang paling mungkin dilakukan oleh manusia.” ― Seno Gumira Ajidarma

Bagi saya juga, menulis adalah bagian dalam menjumput hikmah yang berserakan, merajutnya menjadi untaian yang bermakna. Seperti slogan favorit saya –longlife learner- yang berarti saya harus menjadi pembelajar selamanya melalui hal apapun yang terjadi dalam hidup saya. Adalah salah jika belajar itu didegradasikan maknanya menjadi hanya melalui buku, duduk di bangku kuliah, ataupun duduk di bangku kajian. Ketiga itu, sangatlah perlu. Namun, ternyata masih banyak sekali pelajaran hal di sekitar kita yang masih berceceran, jarang sekali orang yang hendak ‘menjumput’-nya apalagi menuangkannya ke dalam tulisan.

Kenapa harus dituangkan dalam tulisan?

Saya sering menyebutnya dengan MLM kebaikan. Bayangkan, jika kita menulis suatu hikmah ataupun pelajaran baik yang kita ambil dari sekitar kita -sesederhana apapun-, lalu ada orang yang membaca dan hatinya tergerak untuk melakukan kebaikan yang sama kemudian perlahan mengubah hidupnya mengarah ke yang lebih baik…who knows? Seperti yang sering saya tuliskan maupun katakan bahwa kita tidak akan pernah tahu barangkali tulisan kita-lah yang menjadi perantara Allah dalam menyampaikan kebaikan-Nya untuk orang lain.

Hampir -bahkan- semua tulisan saya adalah merupakan pengalaman saya pribadi; yang saya mencoba selalu telisik hikmah apa yang Allah selipkan di setiap episode kehidupan yang Dia tetapkan untuk saya. Maka seringkali, tulisan saya dapat menjadi self reminder yang  kuat -sekali- bagi saya untuk menjalani hidup ke depannya. Saya juga pernah menulis sesuatu yang intinya ‘berulang’. Ketika saya menuliskannya berulang, berarti saat itu saya sedang ingin mengingatkan dir saya sendiri untuk kembali pada prinsip itu. Yap. Sebagian besar yang saya tulis -secara implisit- adalah prinsip hidup saya. Setiap tulisan yang buat juga hampir semua disertai dengan ’emosi’; maksudnya dengan hati. Saya harus segera menulis ketika ada sesuatu yang memuncak dalam hati. Maka, tulisan itu akan menjadi lebih ‘bernyawa’.

Menarik, kan? Menulis tidak hanya bermanfaat untuk orang lain tetapi juga untuk diri sendiri. Kebaikannya turun-menurun. Yap! Menumbuhkan peluang berkah. Bahkan bagi sebagian orang, menulis adalah proses healing.

Saya dan FLP

Tahun 2014 saya mulai menyukai dunia tulis menulis dan saya berusaha melestarikan rasa suka itu hingga akhir hayat. Dalam kurun waktu 4 tahun itu saya hanya menyalurkan hobi saya menulis melalui akun-akun media sosial, blog, naskah buku, dan mengikuti beberapa komunitas menulis. Saya masih merasa memerlukan sebuah wadah yang mampu tidak hanya menampung hobi saya, melainkan juga mampu mengembangkannya sehingga kebermanfaatan yang dirasakan dapat lebih banyak.

Forum Lingkar Pena. Saya mengenalnya secara samar-samar sejak SMA dan lebih mengenalnya saat berkuliah. Namun, keinginan untuk bergabung masih sebatas angan-angan karena melihat kesibukan kuliah yang padat sedangkan untuk menjadi anggota FLP harus meluangkan banyak waktu. Pada open recruitment tahun lalu, saya berusaha mendaftar tetapi terlambat mengumpulkan berkas –karena belum benar-benar niat-. Selama satu tahun, saya sangat merasa memerlukan FLP sebagai wadah untuk meningkatkan kapasitas saya dalam menulis dan mewujudkan cita-cita saya sebagai seorang penulis. Selain itu, saya juga meyakini bahwa kebaikan yang besar akan lebih mudah diraih ketika dilakukan secara berjamaah.

Tidak ada tujuan lain saya dalam menulis selain berdakwah. Saya menyadari saya memiliki potensi dalam hal menulis, meskipun saya masih terus belajar. Sehingga saya ingin memaksimalkan potensi yang saya miliki untuk mewujudkan tujuan penciptaan saya oleh Allah setelah abdillah yaitu khalifah fil ardh. Hingga kemudian potensi saya dapat dirasakan oleh banyak orang dan menjadi amal jariyah saya nantinya. FLP adalah salah satu wadah yang saya pilih untuk mewujudkan cita-cita saya ini. Bismillaahirrahmanirrahim.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *