Non Fiksi

[Review Buku] Yoyoh Yusroh: Mutiara yang Telah Tiada

xbuku-Yoyoh-Yusroh-Mutiara-yang-Telah-Tiada-220x320.jpg.pagespeed.ic.lmi04A2xHv.jpg
sumber: dakwatuna.com

Identitas buku

Judul               : Yoyoh Yusroh Mutiara yang Telah Tiada

Jumlah hal.      : 206 halaman
No. ISBN        : 9789790772731
Penulis             : Tim GIP
Penerbit           : Gema Insani Press
Tanggal terbit  : November – 2011
Jenis Cover      : Soft Cover
Kategori          : Biografi

Fenomena wanita karir di zaman now menjadi tidak asing lagi. Sayangnya, banyak sekali wanita karir yang kehilangan jati dirinya sebagai seorang perempuan, khususnya sebagai seorang muslimah. Sehingga menyebabkan ketidakseimbangan dalam hidupnya sebagai seorang anak, istri, ibu, dan perempuan karir. Akan tetapi, Allah hadirkan di muka bumi seorang muslimah yang dapat menjadi contoh bagi dunia, Beliau bernama Yoyoh Yusroh, bukan hanya sebagai muslimah karir dan ibu biasa melainkan juga sebagai aktivis dakwah, ibu 13 anak, dan juga anggota DPR RI. Semua dilakoninya secara totalitas. Kisah hidup Yoyoh Yusroh secara dalam dikupas oleh Tim Penerbit Gema Insani Press yang berjudul “Yoyoh Yusroh: Mutiara yang Telah Tiada” sebanyak 206 halaman.

Buku ini bukanlah sekadar buku biografi biasa, namun buku ini kaya akan contoh kebaikan-kebaikan yang sangat dekat dengan sehari-hari. Baik dalam kehidupan sebagai seorang muslim, seorang pejuang dakwah, seorang ibu rumah tangga, berbangsa, dan bernegara. Bagi Ummi –sebutan Yoyoh Yusroh dalam buku–, di dunia adalah kesempatan untuk berkarya dan menghimpun amal kebaikan, sehingga tidak heran jika pukul 02.00 pagi Ummi baru saja merebahkan tubuhnya, namun pukul 03.00 sudah bangun lagi untuk menunaikan shalat tahajjud. Buku ini benar-benar menurut kehidupan beliau dari kecil yang dibesarkan kedua orang tuanya hingga berkeluarga, beraktifitas sosial, sampai akhirnya beliau dipanggil oleh Sang Khalik.

Di bagian awal buku penulis menyajikan kata pengantar tokoh dari orang-orang yang menyayangi beliau. Tokoh-tokoh yang memberikan kata pengantar pun bukanlah orang biasa melainkan petinggi-petinggi negara. Tokoh-tokoh hanyalah segelintir orang yang merasa sangat kehilangan Ummi Yoyoh Yusroh. Bunda Neno Warisman dalam kata pengantarnya menyebut bahwa Ummi Yoyoh Yusroh adalah “Generasi Shahabiyah telah hidup kembali pada masa kini abad 21”.  Keteladanan dan ketokohan yang diberikan Ummi tidaklah jauh dari orang tuanya dalam mengasuh Beliau. Sedari kecil Ummi sudah dibelai dengan belaian islam yang kental sehingga tidak heran jika Ummi kecil sudah 6x khatam Al-Quran saat Ramadhan. Selain itu Ummi juga aktif mengajar mengaji sejak kecil. Nilai-nilai Islam yang ditanamkan secara kuat kepada Beliau sejak kecil menjadikan Ummi memiliki banyak nilai-nilai luar biasa. Beliau tumbuh sebagai pribadi yang sangat mencintai ilmu, mandiri, cerdas, dan berani. Salah satu keberanian ini dibuktikan dari kritikannya pada pemerintah rezim saat Ummi kecil. Selain itu, Ummi juga turut berperan dalam unjuk rasa menentang peraturan menteri terkait pelarangan berjilbab. Ummi menjadi orang terdepan yang menyuarakan suara hati para muslimah. Akhirnya perjuangan Ummi diizinkan Allah yaitu pemerintah membolehkan muslimah memakai jilbab. MasyaAllaah…

Dalam buku ini, dipaparkan pula proses pernikahan Ummi dengan suami Beliau, Drs. H. Budi Dharmawan pada tahun 1985. Sebelumnya, sebanyak 35 lelaki telah mecoba melamar Ummi. Alhasil, tiada satupun Ummi menerima dengan alasan masih berkuliah. Hingga suatu ketika Ayah Ummi mengabarkan bahwa tiga hari lagi akan ada seorang lelaki yang melamar Ummi. Seorang kaya raya yang merupakan tokoh penting di kampungnya. Kali ini Ummi sulit sekali mencari alasan untuk menolaknya. Hingga pada akhirnya Ummi menemui Ustadz Hilmi Aminuddin untuk dicarikan calon suami. Ummi ingin suaminya adalah juga aktivis dakwah. Ummi tidak menyebut seorang pun, yang Ummi katakan hanyalah,“Pilihan jamaah dan pilihan Allah itulah yang akan menjadi pilihan saya.” MasyaAllah… Takdir kemudian berbicara. Tepat sehari menjelang pemuda dari Desa Batuceper akan melamarnya, Ummi mendapat kabar dari Ustadz Hilmi bahwa ada ikhwan yang siap melamarnya, beliau lah suami Ummi saat ini. Setelah menimbang berbagai hal, Ummi mempersilakan sang ikhwan datang malam itu juga. Segalanya dipermudah, Ayah Ummi menyalami Abi –sebutan Budi Dharmawan dalam buku– sebagai tanda terima lamaran.

Pernikahan Ummi dan Abi berjalan harmonis. Keharmonisan rumah tangga Ummi tidaklah lain karena kesabaran dan ketangguhan Ummi dalam menghadapi kehidupan, suami, dan anak-anak Ummi. Untuk menanggulangi gejolak dari keluarga masing-masing, Ummi dan Abi memiliki strategi. Ummi menjadi juru bicara Abi terhadap keluarga Ummi dan Abi menjadi juru bicara Ummi untuk keluarga Abi. Selain itu Ummi selalu mencintai dan menghargai khadimat (pembantu) Ummi selayaknya keluarga sendiri. “Yang penting shalat dulu. Kerja nanti saja kalau sudah shalat.” Begitulah ucapan Ummi setiap shubuh kepada khadimatnya. Ummi tidak pernah memarahi khadimat meski ia yang sebenarnya salah. Kebaikan-kebaikan Ummi ini-lah yang justru menimbulkan perasaan bersalah di diri orang-orang terdekatnya. Ummi juga senantiasa menjaga keharmonisan dengan Abi di sela aktivitasnya sebagai anggota DPR.

Dalam pola mendidik anak dan keluarga, Ummi memiliki pola terbaiknya. Salah satu hal yang sangat dipegang Ummi dalam mendidik anak adalah pentingnya Al-Qur’an. Yang Ummi katakan kepada anak-anaknya adalah,“ Ummi senang mempunyai anak-anak yang berprestasi, tetapi Ummi lebih senang anak-anaknya shalih dan shalihah.”. Al-Qur’an sudah dikenalkan Ummi kepada anak-anaknya sejak dalam kandungan. Setelah anak-anaknya berusia 6-8 bulan, Ummi mengenalkan huruf latin dan huruf Arab. Ummi juga membiasakan anak-anaknya untuk beribadah dengan cara-cara yang indah dan lembut supaya meciptakan kesan bahwa ibadah itu menyenangkan. Tidak mengherankan jika anak-anaknya pada usia 3,5 tahun sudah terbiasa puasa Ramadhan. Ummi juga sering mengajak anak-anaknya berwisata ruhani pada malam hari, yaitu shalat malam, serta beri’tikaf selama sepuluh hari terakhir Ramadhan. Dalam mengajarkan akhlak, Ummi dan Abi menggunakan pola “menjadi model langsung”. Mulai dari cara menghormati orang tua, menyayangi sesame, dan menghargai tetangga. Ummi juga selalu menanamkan bagaimana mencintai Allah dan mencintai Nabi, bukan malah mengidolakan yang lain. Pola belajar, memilih sekolah, serta pola makan yang Ummi terapkan kepada anak-anaknya selalu tidak jauh dari Allah, Islam, dan Al-Qur’an. Tidak heran jika anak-anaknya tumbuh menjadi para penghafal Al-Qur’an. Dalam mengatur pola makan Ummi sangat tegas terhadap penggunaan vetsin atau MSG. Bagi Ummi,“Rahim seorang wanita harus dipersiapkan untuk menjadi generasi yang terbaik. Jadi makanlah hanya sesuatu yang halal dan thayyib. Keteladan Ummi benar-benar diilhami oleh anak-anaknya, tak terkecuali anak bungsu Ummi, Rahma Rahimah. Suatu saat anak bungsu ini terlibat percakapan dengan Abi.

Rahma berkata,“Saya ingin menjadi anggota DPR.”

“Kenapa adek ingin menjadi anggota DPR?” Tanya Abi

“Habisnya enak sering baca Al-Qur’an.” Jawab Rahma.

Ummi benar-benar memberikan perspektif yang berbeda kepada Rahma. Memang sepanjang mengikuti Ummi menunaikan tugas sebagai Pimpinan Komisi VIII DPR, pemandangan Ummi membaca Al-Qur’an adalah hal yang paling sering ditemui. MasyaAllah

Cita-cita Ummi ingin menjadi agen rahmatan lil ‘alamin. Sehingga tidak heran jika kontribusi Ummi sangatlah luarbiasa dari segi sosial masyarakat hingga politik. Dalam padatnya aktivitas, Ummi memiliki target membaca Al-Qur’an sehari 3-5 juz. Ummi juga senantiasa menjaga kesehatannya supaya tetap kontributif dengan cara rutin mengkonsumsi habatusauda, rajin berolahraga meski hanya dengan naik tangga parlemen DPR (tidak menggunakan lift). Dalam bersosial masyarakat, Ummi dikenal sebagai sosok yang suka menolong, pemaaf, tidak mudah marah, bersungguh-sungguh, dan sifat baik lainnya. Kontribusinya untuk masyarakat, Ummi mewariskan Pesantren Ummu Habibah dari Yayasan Ummu Habibah yang Beliau rintis sendiri. Dalam bidang dakwah, Ummu melakukan pelatihan mubalighah, pelayanan dakwah instansi, konsultasi keluarga, dan sanlat kids dan youth organize (SANKYZ). Dalam dunia politik, Ummi beramanah di DPP Partai Keadilan Sejahtera yang membidangi masalah perempuan dan anak-anak. Bekerja secara totalitas dan hati yang ikhlas itulah prinsip Ummi. Hingga akhirnya Ummi diberikan amanah oleh Allah untuk berkiprah di DPR RI pada komisi I, komisi VII, hingga komisi VIII. Berbagai kebaikan telah berhasil Ummi perjuangkan melalui posisinya di DPR RI, salah satunya adalah UU Pornografi dan UUPKDRT. Kepedulian Ummi terhadap dunia juga Ummi tunjukkan dalam perjuangannya membela Palestina. Gigihnya Ummi melakukan pembelaan dan bantuan Palestina membawanya terbang ke Palestina bersama anggota parlemen Indonesia yang membuat bekas indah di hati warga Palestina dan pemimpin negara warisan para nabi ini. Ummi pun diberikan anugerah sebagai warga negara kehormatan Palestina oleh Perdana Menteri Islamil Haniyya, yang dibolehkan membeli tanah di bumi yang suci itu serta mendirikan bangunan dan rumah di sana. MasyaAllah…

***

Dunia berduka. Akan tetapi, Allah terlampau mencintai Ummi… Allah terlampau menyayangi Ummi… hingga Allah mengambil bidadari dunianya terlebih dahulu melalui peristiwa kecelakan pada tanggal 19 Mei 2011 usai menghadiri wisuda putra sulungnya di UGM. Ummi meninggalkan dunia dengan kalimat syahadat yang sempurna. Ummi mengakhiri hidup dengan senyum yang tersungguh indah pertanda Ummi kembali kepada Rabbnya dengan tenang dan bahagia.

“Duhai Ummi, apa gerangan yang Engkau lihat setelah hembusan nafas terakhirmu? Hingga Engkau tersenyum begitu indahnya.” :’)

Mutiara dunia kini telah tiada. Selamat jalan Ummi. Bagimu syurga Ummi, insyaAllah.

Doaku, semoga ada mutiara yang melanjutkan perjuanganmu, dan semoga salah satunya adalah aku. Aamiin…

 

Identitas penulis

Penulis review ini bernama lengkap Farah Nadia Karima. Penulis lahir di Boyolali, 27 Mei 1996. Masa sekolah dasar hingga menengah atas ia tamatkan di kota kelahirannya. Kini penulis sedang menempuh pendidikan sarjananya di Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada. Selama kuliah, penulis lebih banyak beraktivitas di lembaga dakwah fakultasnya dan juga menulis di blog pribadinya. Penulis sangat menyukai dunia baca, menulis, remaja, muslimah, masyarakat, dan dakwah. Sehingga kehidupannya tak jauh dari hal-hal itu semua. Saat ini penulis juga sedang menyelesaikan amanahnya sebagai santri di sebuah pondok pesantren mahasiswi bernama PPMi Asma Amanina. Sejauh ini, penulis telah berkontribusi menulis dalam sebuah Antologi Karya berjudul “Suara Alam” dan sedang menyusun beberapa buku lainnya. Untuk mengenal lebih lanjut, bisa berkunjung ke blog pribadinya farahnadiak.wordpress.com atau melalui akun Instagram @farahnadiak.


Review ini adalah salah satu tugas orientasi calon Forum Lingkar Pena Yogyakarta angkatan 18 🙂

Semoga bermanfaat. Jika ingin dijadikan referensi silakan, tetapi diberi sumber ya. 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *