Non Fiksi

Sabar dan Teguh dalam Berkhidmat

Capture

Langkah-langkah ini akan panjang. Onak duri dan berbagai penghalang semakin dekat menghadang. Sedangkan tujuan itu masih tidak terlihat sejauh mata memandang. Lantas?

Biarlah setiap langkah menjalani kata hati yang sejati. Menyusuri setiap cahaya ilmu yang Allah kehendaki. Sulit memang. Berat memang. Namun, barangkali “jalan” yang hendak kita pilih untuk mencapai tujuan yang hakiki baru kita temui setelah perjalanan yang panjang, sulit, dan rumit.

Akan tetapi, karena prasangka baik kepada-Nya yang sudah menghujam kuat disertai dengan keteguhan di atas kesabaran, bertemulah kita dengan “jalan” yang kemudian di kehendaki-Nya sebagai cara berkhidmat untuk umat demi mencapai tujuan yang hakiki. “Jalan” yang bukan lagi dipilih karena bujuk rayu nafsu semata, melainkan Allah sebagai tujuan utama.

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا . فَلَمْ يَزِدْهُمْ دُعَائِي إِلَّا فِرَارًا
“Dia (Nuh) berkata,”Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam, tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran)”.” [QS. Nuh 5-6]

950 tahun menyeru, tidak mencapai lebih dari 100 orang yang beriman. Namun, tak sedikitpun keteguhan Nabi Nuh luntur dalam meniti jalan yang Allah cintai. Nabi Nuh menjalankan caranya berkhidmat untuk umat di atas kesabaran dan keteguhan yang luar biasa. Apakah mudah? Ayat di atas telah menjelaskan ‘tetapi seruanku itu tidak menambah (iman) mereka, justru mereka lari (dari kebenaran)‘. Sulit? Banget. Nabi Nuh tidak pernah mengadu kecuali pada Rabbnya. Beliau menyandarkan sepenuhnya hasil kepada Allah.

Pahala diperoleh bukan dari hasil, melainkan dari dakwah itu sendiri

dalam “Qowa’idud Dakwah Ilallah”.

***

Mungkin saat ini kini tengah meniti jalan ilmu yang tak kunjung usai. Ilmu agama, ilmu sains, ilmu politik, ilmu sosial, ilmu ekonomi, dsb. Terlampau banyak ilmu Allah yang bertebaran di muka bumi. Kelelahan dan keputusasaan dapat menjadi hal yang lumrah, tetapi tidak bisa dibiarkan. Jati diri sebagai hamba Allah dan khalifah harus terus digali dengan mendatangi berbagai macam majelis ilmu. Hingga pada di muara yang tepat, di saat yang tepat -menurut-Nya-, kita bertemu ‘jalan ilmu’ yang akan kita gunakan berkhidmat untuk umat sampai akhir hayat.

Semangat menempa diri dengan kesabaran dan keteguhan, di atas jalan kebenaran.

 

Yogyakarta, 15 Maret 2018

Pukul 00.57 WIB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *