Non Fiksi

Ajari Aku

Aku pernah berada di suatu titik hingga rasanya semua yang ada di pundak ingin dilepas tak bersisa atau disisakan hanya satu untuk fokus padanya saja. Aku tahu bahwa keputusan itu adalah salah dan bukanlah sebuah keputusan yang bijak. Namun, aku hanyalah manusia lemah yang tak berdaya tanpa pertolongan-Nya.

Berkali kuutarakan, namun selalu gagal aku realisasikan. Ada ucapan yang terlihat seperti tangan yang menahanku untuk melepas semua yang ada di pundakku. Ada tulisan yang terlihat seperti cambuk sehingga yang hadir justru rasa malu atas diri sendiri. Ada perkataan yang terlihat seperti sebuah cahaya yang menghapus keputus asaan dan kebingungan sehingga aku dapat bangkit lagi. Meski perlahan dan tertatih. Sehingga semua keputusan itu aku tarik dalam-dalam dan kembali mencoba mendekapnya erat-erat. Menata dan meluruskan kembali tekad dan niat serta menyempurnakan tawakal dan ikhtiar.

Diri ini sangat jauh dari kata sempurna dalam menggenggam amanah-amanah yang hadir. Ketakutan seringkali menyergap hingga terkadang itulah salah satu penyebab kefuturan yang luar biasa. Namun, aku bersyukur, Allah izinkan aku bertemu denganmu, dengannya, dengan mereka, sahabat sahabat syurgaku sehingga tak sekalipun kamu ataupun mereka mengizinkanku untuk menyerah begitu saja.

Gitu aja putus asa? Kebaikan itu ada untuk dilanjutkan. Jangan dihentikan.

Begitu katanya.

Sekarang aku masih tertatih. Jangan lelah untuk terus menarikku ke atas, sahabat. Ajari aku untuk menjadi manusia yang mujahadahnya sampai titik darah penghabisan dalam menjalankan setiap amanah yang Allah berikan. Seperti dirimu melakukannya.

Jangan menyerah untuk ‘menamparku’ dan mengingatkanku. InsyaAllah aku ridha, sahabat… Jika itu membuatku semakin mendekat pada-Nya.

Boyolali, 28 Oktober 2017

Farah Nadia Karima

 

One Comment

Tinggalkan Balasan ke Azzura Marin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *