Non Fiksi

Rezeki untuk yang Terjaga

Pagi tadi adalah pertama kalinya setelah dua tahun lamanya pulang kampung menggunakan kereta api (yap, setelah kecelakaan Februari lalu dilarang mengendarai motor). Akan tetapi, untuk sampai ke Boyolali aku harus naik bus umum terlebih dahulu setelah turun dari kereta di Solo. Jarak stasiun dengan tempat pemberhentian bus cukup jauh sehingga aku memutuskan untuk naik becak. Sejurus kemudian, aku langsung mencari tempat pangkalan becak.

Aku melihat banyak becak, namun bapak pemilik becak yang terdekat dengan lokasiku saat itu sedang tidur. Tidak lama kemudian seorang bapak becak yang lain menghampiriku dengan sedikit tergopoh.

“Mbak, becak?”

“Iya pak, becak.”

“Kemana, Mbak?”

“Halte Solo Square, Pak.”

Monggo monggoo naik.” Pinta Bapak becak itu ramah.

***

Sejenak aku merenung. Jika dipikir secara logika, seharusnya aku memilih bapak becak yang terdekat dengan lokasiku. Sayangnya, bapaknya tidur dan ada bapak lain yang berusaha menjemput rezeki dariku. Begitulah Allah memainkan rezeki. Allah sudah mengatur rezeki di dalam kitab Lauhul Mahfudz, namun kita diperintahkan untuk bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki. Tawakal disertai ikhtiar.

Rupanya, Allah belum memberikan rezeki melalui perantaraku untuk bapak yang pertama, karena beliau terlelap. Sedangkan Allah berikan rezeki melalui perantaraku untuk bapak yang kedua karena Beliau terjaga lalu berusaha menjemputnya.

Ah iya. Sama halnya dengan shalat fajar sebelum shubuh.

Keutamaan shalat sunnah subuh ini secara khusus juga disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

“Dua rakaat shalat sunnah subuh lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”(HR. Muslim 725).

Dan bagiku, itulah sebaik-baik rezeki di dunia, hanya bagi orang-orang yang terjaga di pagi harinya.


 

Boyolali, 29 Juli 2017

Pukul 23.40

#30DWCJilid7 #Day22

Di Rumahku Surgaku

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *