Non Fiksi

Bahagia

Ada sebagian orang mendefinisikan bahagia ketika mereka memiliki kemelimpahan harta. Jika mereka mampu membeli mobil, motor, atau barang-barang mahal lainnya dengan mudah. Atau dengan usaha bisnis yang melanglang buana. Iya ada, banyak.

Ada sebagian orang lainnya mendefinisikan bahagia ketika mereka memiliki kemelimpahan gelar. Jika mereka mampu melanjutkan studi S1,S2,S3 hingga mendapat gelar profesor. Iya ada, banyak.

Ada sebagian orang di sudut bumi yang lain yang mendefinisikan bahagia ketika mereka memiliki banyak buku ciptaannya sendiri. 1,2,3, hingga ratusan buku. Iya bangga, ia dikenal banyak orang.

Ada lagi orang yang mendefinisikan bahagia ketika ia mampu menghibur orang lain di panggung hiburan dengan lenggak-lenggok tubuh yang -menurutnya- indah atau dengan suara yang -menurutnya- merdu. Iya, ada banyak.

Belum lagi ada orang yang mengukur kebahagiaan ketika mereka memiliki kekasih banyak, pacaran bertahun-tahun lalu menikah. Ada kok.

Manusia pada umumnya mengukur kadar kebahagiaan masih seputar unsur keduniawiaan. Namun benarkah kadar kebahagiaan yang hakiki dapat diukur dengan unsur keduniawiaan yang tak lain berupa HARTA, TAHTA, DAN CINTA?


Yogyakarta, 16 Juli 2017

Pukul 07.56 WIB

Rumah Cahaya Asma Amanina

#30DWCJilid7 #Day10

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *