Non Fiksi

STAY HUSNUDZON (1)

IMG-20170627-WA0004.jpg

Ada yang belum kenal husnudzon? Iya, husnudzon lawan kenthel-nya su’udzon. Prasangka baik versus prasangka buruk. Kalau diadu, lebih banyak menang su’udzonnya. Iya jelas, jalan ke neraka selalu lebih mudah.

Prasangka baik (?)
Susah ya…iya susah banget. Apalagi kalau kejadian yang datang itu bertolak belakang dengan keinginan hati. Sebel, kecewa, dan marah.

Ingin A, Allah kasih B. Ingin B, Allah kasih C. Ingin C, Allah kasih D.

Then,”Allah jahat, nggak pernah ngabulin doaku.”

Indah ya…Allah ingin lebih lama mendengar doa-doa kita yang penuh harap kepada Allah disertai rasa takut apabila doa kita adalah bukan yang terbaik menurut Allah.

Seringkali, perlulah melepas kacamata yang penuh prasangka buruk itu dengan kacamata yang dihiasi prasangka baik. Sulit? Iya. Gakpapa. Maju terus. Perlahan. Jangan lelah. Prasangka baik kepada Allah; karena yakin pastilah apa-apa yang Allah kasih itu sesuai untuk kita. Ada hikmah dan makna terindah. Yaqin.

Dengan kacamata yang baru, insyaAllah hati menjadi tentram dan damai karena pengharapan apapun sepenuhnya kita sandarkan pada Allah. InsyaAllah.
Dengan kacamata baru, insyaAllah hati menjadi lebih lapang dalam merasakan kasih sayang Allah yang tiada seorang pun mampu menghitungnya.

Setelah pakai kacamata yang baru, hayati dan rasakan. Rencana Allah hadir semata-mata karena besarnya rasa sayang Allah pada hamba-Nya. Tidak ada yang lain. Yang ada hanya decakan kagum dan kesyukuran tiada henti. Bersyukur karena memang ALLAH is THE BEST PLANNER of life.

Begitu ya, Farah. 🙂 Stay Husnudzon everytime and everywhere! ☺

Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

#SelfReminder

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *