Fiksi

JATUH

sumber: www.google.com
sumber: www.google.com

Jatuh;

Semua orang tidak menyukai kata itu, kecuali jatuh yang diikuti kata ‘cinta’
Ah, tidak juga ternyata. Sebagian orang tidak menyukai jatuh cinta
Sayangnya, aku sedang tidak membicarakan itu

Kau tahu yang membuat durian begitu istimewa bagi sebagian orang?

Kau tahu kenapa bunga mawar begitu indah dibanding bunga lainnya?

Semata-mata karena mereka memiliki duri yang menghiasi bagian tubuh mereka

Jika duri-durinya dihilangkan, apakah akan tetap terlihat istimewa?

Kita sepakat akan menjawab; tidak.

Hidup memang harus begitu, takkan istimewa tanpa adanya jatuh. Adakalanya kita harus terjatuh, merasakan sakit untuk bangkit. Merangkak perlahan untuk berdiri. Berhenti untuk intropeksi. Ya, memang begitu hakikat hidup. Belajar. Belajar terus menerus hingga akhir hayat.

Jatuh tidak selamanya menjadi kata yang menakutkan. Terkadang, ia begitu disukai karena ia memberikan banyak pelajaran. Ia memberikan sebuah arti bangkit, kenapa harus bangkit, dan bagaimana menyusun strategi supaya tidak jatuh di lubang yang sama. Aku? Mencintai jatuh. Namun, mencintai jatuh tidak berarti aku akan terus jatuh. Tidak. Sekali lagi tidak.

Aku mencintai jatuh. Karena jatuh, bagiku adalah sebuah cara bagaimana Allah menegur seorang hamba. Seorang hamba yang barangkali mulai mengambil jarak dengan Dzat yang menciptanya, yang tidak sepantasnya begitu. Dia masih sayang, sehingga dirangkulnya kembali ke dalam ‘dekapan’. Bukankah segala akar permasalah hidup sejatinya hanyalah tentang; seberapa dekat seorang hamba dengan Tuhannya?

Yogyakarta, 26 September 2015

Pukul 23:17 WIB

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *